Foto bersama pimpinan pesantren Al-Bukhari Wesalo Muh Usman Amin (kiri)
Foto bersama pimpinan pesantren Al-Bukhari Wesalo Muh Usman Amin (kiri)

Tirawuta, Koran Sultra – Yayasan Pesantren Al Bukhari Wesalo yang berada di Desa Wesalo, Kecamatan Lalolae, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), mewajibkan kepada 128 santrinya untuk mampu menghapal Alquran, minimal 1 juz dalam setahun.

Pimpinan Pesantren Al Bukhari Wesalo, Ustad Usman Amin mengatakan, hapalan Alquran minimal 1 juz tersebut menjadi syarat kelulusan para santri sehingga bulan Ramadan ini dimanfaatkan oleh santri-santrinya untuk aktif menghapal ayat-ayat suci Alquran.

“Aturan yang sudah kami sepakati bersama antara pihak yayasan dan para santri adalah setiap santri harus bisa menghapal Alquran 1 juz, dan sifatnya wajib. Dan juga menjadi syarat untuk mengambil ijazah dalam hal ini standar kelulusan santri,” ungkap Usman ditemui di Pesantren Al Bukhari, Kamis (16/6/2016).

Jika tidak mampu menghapal Alquran, kata Usman, maka ijazah para santri akan ditahan.

Usman pun mengaku bersyukur karena hingga hari ini dirinya belum menemukan ada santrinya yang tidak bisa menghapal Alquran. Sehingga mereka memiliki tugas tambahan, yaitu menjaga hapalannya agar tetap lancar dan tak terlupakan lagi.

“Sampai hari ini sudah ada santri saya yang hapalannya sampai tujuh juz atas nama Wafiq Wirahmanda. Dia mampu melebihi kemampuannya dan kemungkinan bisa mewakili Koltim untuk STQ maupun MTQ,” ujarnya.
Selain menghapal Alquran, para santi di Pesantren Al Bukhari juga diwajibkan menghapal sejarah Nabi, aqidah, hadis, fiki dan tafsir selama Ramadan sebagai kegiatan tambahan.

Menurut Ustad Usman, para santri diberikan kegiatan yang begitu banyak selama Ramadhan ini untuk mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan yang bermanfaat dan penuh pahala, seperti mengaji, ceramah, dan melaksanakan shalat.

“Kangat besar pahalanya jika kita mengisi kegiatan dibulan puasa ini dengan melaksanakan sholat, terus mengaji dan ceramah,” kata Usman.

Selain itu, mereka juga dituntut setiap harinya agar rutin melaksanakan ibadah, ceramah, dan mengaji. Sebab, bukan hanya di bulan puasa saja akan mereka laksanakan, tetapi di bulan-bulan lainnya mereka juga dituntut agar tetap melaksanakannya.

“Bukan hanya dibulan puasa saja mereka harus melaksankan tugas-tugas tersebut, tetapi bulan-bulan biasa pun tetap mereka akan melaksanakanya,” tegasnya.

Jadwal untuk tugas ceramah dan mengaji, lanjutnya, telah dibagi kepada para santri, ada yang mengaji perorangan, ada juga yang dilaksanakan bersama-sama, begitu pun dengan ceramah, dilakukan dengan perseorangan.

Kontributor : Dekri

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY