Siswanto Azis
Komisioner KPID Sulawesi Tenggara

Oleh : Siswanto Azis
Komisioner KPID Sulawesi Tenggara

Bagaimana Uang dapat membeli Keadilan?! Jawabannya : Tergantung dari Berapa Jumlah Uangnya. Aneh Tapi Nyata, Memang Uang lebih Berat dari pada Keadilan.

Nilai Hukum serta Keadilan menjadi sangat tergantung dari jumlah hitungan besar kecil uangnya. Semakin banyak dan besar, maka semakin jelas juga Kemenangannya. Ada istilah “Hukum Tajam ke Bawah dan Tumpul ke Atas”, “Kok Bisa ya?!” (begitu kata bang Iwan Fals. 

Bukankah Hukum atau keadilan tidak Pandang Bulu, Tidak melihat ataupun membedakan dari derajat, kedudukan, golongan, ras ataupun warna kulitnya??.
Jawabannya : Hukum dan Keadilan itu sudah semakin Tidak Jelas arahnya, semakin menuju kegelapan (film horor kali), “kegelapan mata” alias sudah dibutakan oleh kehebatan uang. Istilahnya Men-Tuhan-kan Uang, segalanya sudah indah tatkala uang membius manusia terjerumus kedalam lembah hitam.

Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini yang menyeret orang nomor satu di Universitas Halu Oleo, tepatnya pada saat pelaksanaan seleksi calon anggota KPU Kolaka dan Kolaka Timur, dimana yang diloloskan oleh timsel hanya mereka yang memiliki cukup banyak uang untuk membayar atau menyogok tim seleksi, sementara yang si miskin atau yang tidak mau menjual integritasnya hanya sebuah jabatan harus tersingkir.

Saya sebagai penulis timbul pertanyaan, Mengapa pratik seperti ini masih terus menerus di negeri ini, apakah ini sebuah warisan peninggaran orang-orang terlebih dahulu? dan kenapa polisi tidak menahan sang pelaku tersebut?, jawabannya Maybe yes, maybe no.

Jika semua sudah merasa lelah, bosan dan jenuh dengan kondisi hukum dan keadilan yang sudah tidak seimbang dan berat sebelah, munculah masalah selanjutnya yaitu ” resistance to arbitrariness” atau keseweng-wenangan. Mengapa? Karena sudah tidak ada lagi keadilan. Semakin memanas, brutal, kejam, keji, dan berlaku semena-mena demi mendapatkan apapun yang diinginkan dengan berbagai cara.

IKLAN KPU

Gambar sebelah kiri menunjukan beratnya pistol daripada palu (menandakan keadilan dan hukum). Bagaimana pistol bekerja lebih cepat daripada hukum keadilan itu. Merasa tidak adil lalu menjadi keji, kejam, memberontak, merusak, menghancurkan dan membinasakan. Berapa banyak lagi rumah tahanan atau lembaga permasyarakatan alias bahasa halusnya dari “Penjara” akan dijebol maupun dibobol, siapa lagi yang akan menjadi korban sasaran penipuan, pencurian, penculikan, perampokan, kekerasan, penganiayaan, pemerkosaan, pencabulan, hingga penyiksaan dan pembunuhan. Betapa mengerikan bila masalah ini terus menerus terjadi dimana-mana tanpa ditindak lanjuti. 

Bagaimana nasib masyarakat kecil yang hidup berdasarkan kebenaran dan keadilan? bila semua berlaku dan bertindak sewenang-wenang, semaunya sendiri-sendiri, masing-masing, karena melihat kenyataan hukum dan keadilan sudah tidak berjalan, begitu ringan, sudah tidak berwibawa, tidak adil dan tidak seimbang. Mungkin akhirnya tidak ada lagi kata “KeDAMAIan”, yang ada tinggal menunggu meletusnya “Perang Saudara” karena masing-masing membela diri untuk keselamatan dan kepentingan hidup pribadinya sendiri-sendiri, tidak perduli alias masa bodoh dengan kebersamaan, persaudaraan, apalagi cinta kasih atau kasih sayang.

Memang terlihat sangat bahagia hidup punya uang/kekayaan/harta berlimpah, bisa mendapatkan semua yang diinginkan dengan mudah. Tapi banyak yang menjadi “LUPA” hingga terjadi kebohongan, penipuan, kejahatan dan bahkan :
1. Kekeluargaan bisa rusak karena masalah ini,
2. PerSaudaraan putus hubungan karena ini,
3. PerSahabatan pun hancur karena ini,
4. Cinta dan Kasih Sayang musnah akibat ini.
5. Hukum dan Keadilan jadi “Cacat” gara-gara yang satu ini.
Masalah dari kecil menjadi besar, entah dari hal apa saja mungkin dari masalah cinta, salah paham penyampaian komunikasi saling menuduh, kecemburuan, iri hati, sakit hati, dendam, masalah jual beli tanah, properti, gedung, bangunan, bisnis, perdagangan, pekerjaan, kesehatan, warisan, pembayaran hutang piutang, dsbnya sampai saling menjatuhkan, menghancurkan, membunuh dan bahkan mencelakakan. Sungguh Mengerikan…!!! Dimanakah Hati Nurani itu berada??!! saat berhadapan dengan Benda Mati (UANG), yang satu ini…??? Berapapun Jumlah Uang / Harta Kekayaan yang dimiliki, tetap Tidak Akan Mampu dibawa ke Akherat (Alam Kematian) nanti.

Apakah pada saat mati dapat membawa mobil mewah? Apakah pada saat mati dapat memakai perhiasan dan baju / pakaian mahal? Apakah pada saat mati dapat membawa rumah mewah? Jangankan uang atau harta, rumah, mobil, pakaian mewah, perhiasan, dan ranjang sekalipun tak mampu dibawa saat kematian menjemput, hanya digulung sepenggalan kain kafan atau baju seadanya, ditidurkan dalam peti mati ataupun keranda, digotong menuju rumah kecil berupa sepetak tanah kuburan yang dihiasi batu nisan, begitu dinginnya dipenuhi tanah, batu kerikil, dan binatang-binatang kecil pun sedikit demi sedikit mulai menggerogoti kulit dan daging hingga tersisa tulang belulang belaka. Apalagi bila dikremasi, tubuh ini habis terbakar dan hanya tersisa menjadi abu, debu dan butiran. Kedudukan, derajat, kehormatan dan nama besar hanyalah tinggal goresan ukiran yang ditulisan di atas batu nisan.  Apakah yang dapat dibawa Mati??? Hanya Amal dan Kebajikan (Kebaikan). Tapi Siapa yang Percaya??? Bila semua sudah terlanjur Lupa?!(*).

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here