Ditjen Perkebunan Bersama Perusahaan Perancis Lirik Potensi Kakao Kolut

Lasusua, Koransultra.com – Direktorat Jendral (Ditjen) Perkebunan Kementrian Pertanian (Kementan) RI bersama Buyer (Pembeli) asal negara Prancis serta perwakilan dari Yayasan Kalimanjari, Widiastuti, melakukan kunjungan
di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kunjungan para tim ahli tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah dalam menyuseskan program revitalisasi Kakao di Kolut.

Kasubdit Pasca Panen Ditjen Perkebunan Agus Hartono mengungkapkan, tujuan kunjungannya di Kolut tak lain hanya sekedar membagi informasi kepada para petani tentang semangat kwalitas.

“Kolut merupakan salah satu Kabupaten di Sultra yang memiliki potensi yang menjanjikan untuk pengembangan kakao,” kata Agus saat berkunjung disalah satu Perkebunan Kakao di Desa Puurau, Kecamatan Ngapa, belum lama ini.

Menurut Agus, dalam hal kwalitas kondisi kakao Kolut masih terbilang cukup baik serta memiliki perbedaan spesifik dengan kakao yang lain. Hanya saja kata Agus, dari segi pasca panen masih belum maksimal dan perlu ditingkatkan.

“Maka dari itu kami dan dari tim pendamping melakukan kerja sama dengan Pemerintah Kolut untuk bersama-sama mensukseskan revitalisasi kakao melalui pencanangan program,” ujar Agus.

Program yang akan diterapkan yakni fermentasi kakao pasca panen. Fermentasi kakao merupakan cara untuk mendapatkan kwalitas serta mutu kakao yang baik.

Apa itu Fermentasi Kakao dan Tujuannya?

Dikutip dari berbagai sumber, Fermentasi merupakan proses pengolahan biji kakao. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp (daging buah) dan mematikan biji saja. Namun tujuan dari proses fermentasi ini terutama untuk memperbaiki dan membentuk cita rasa cokelat yang enak dan menyenangkan serta mengurangi rasa sepat dan pahit.

Fermentasi biji kakao merupakan fermentasi tradisional yang melibatkan mikroorganisme indigenous, baik berupa bakteri maupun ragi yang terdapat pada pulp kakao tersebut.

Mikroorganisme ini nantinya akan menghidrolisis senyawa-senyawa yang terdapat pada pulp menjadi senyawa pembentuk cita rasa dan aroma yang setara dengan kakao yang berasal dari negara Ghana.

Di Indonesia sendiri, program fermentasi kakao pasca penen telah diterapkan di Kabupaten Jembrana, Bali. Petani kakao Jembrana, Bali bagian barat melakukan pengolahan pasca panen melalui teknik fermentasi. Hasilnya, mereka mampu mendapatkan biji kakao berkualitas yang dijual ke pasar-pasar internasional maupun domestik.

Penerapan fermentasi kakao tersebut kata Agus, dapat menekan harga kakao yang relatif tidak stabil sehingga pendapatan petani dapat akan lebih meningkat. Selama ini, banyak permasalahan terkait persoalan petani di lapangan. Maka dari itu program tersebut perlu untuk dibuatkan sebuah aturan.

“Kita sementara godok regulasinya di Kementan. Kalau regulasinya sudah ada petani Kolut tidak perlu kawatir lagi jika harga jual kakao turun,” katanya.

Agus berharap kehadiran para pendamping dapat memberikan dampak positif bagi para petani dengan meningkatkan kesejateraan dan mutu tanaman kakao melalui fermentasi kakao. Sebab Kolut merupakan sentra produksi kakao. Potensi untuk kemajuan program kakao dan kesejeteraan masayarakat cukup besar jika sistem penunjang lebih ditingkatkan.

“Perlu dukungan dari berbagai pihak untuk mensukseskan program ini,” harap Agus.

“Program ini untuk pengembangan kawasan yang terintegrasi antara hulu sampai hilir. Jadi perbaikan dimulai dari pengolahan lahan sampai dengan pemasaran,” tambah Agus.

Agus menuturkan, pemerintah pusat melalui Kementrian Pertanian sangat serius dalam mengentaskan kemiskinan di sektor pertanian. Bahkan untuk anggaran pertanian, pemerintah pusat menggelontorkan dana sebanyak Rp 2 triliun untuk perbaikan mutu tanaman.

“Tahun 2019 sampai 2024 ada program yang dinamakan program Benih Unggul Nasional (BUL) 500 juta dengan 8 komoditas perkebunan yakni Pala, Cengkeh, Kelapa, Kakao, Tebu, Lada dan Sagu,” terang Agus.

Benih unggul tersebut merupakan program dari Kementan melalui Ditjen Perkebunan dan akan diberikan kepada para petani.

Untuk di Kabupaten Kolut sendiri kata Agus, pemerintah pusat menggelontorkan dana sebanyak Rp 24 milyar.

Anggaran yang bersumber dari APBN tersebut nantinya untuk membiayai beberapa program revitalisasi pertanian yang telah dicanangkan oleh Pemda Kolut tahun ini.

“Itu sudah termasuk biaya peremajaan tanaman kakao sebanyak 43 ribu hertar. Lada 1500 hektar serta pengadaan alat pasca panen untuk mendukung program revitalisasi,” pungkasnya.

Kontributor : Fyan

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here