Tampak Rumah Warga Yang Mendapatkan Bantuan BSPS Didesa Petudua kec. Tanggetada Yang Masih Terbengkalai.  Foto: Asri Joni
Tampak Rumah Warga Yang Mendapatkan Bantuan BSPS Didesa Petudua kec. Tanggetada Yang Masih Terbengkalai. Foto: Asri Joni

KOLAKA, KORAN SULTRA-Sejumlah rumah warga di Desa Petudua Kecamatan Tanggetada yang masuk dalam program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2016 masih terbengkalai dan tak bisa dihuni. Padahal bantuan rehab rumah warga tersebut sejatinya sudah dapat digunakan oleh warga kurang mampu di desa itu.

Warga Desa Petudua Karim, mengaku kecewa lantaran rumah yang dibangun oleh pemerintah melalui pos anggaran Kementerian PU Perumahan Rakyat tahun 2016 tak bisa ditempati sama sekali. Sebab, sejak dibangun sekitar Oktober lalu kondisi bangunan yang terbuat dari dinding batako itu tak memiliki atap sama sekali.

“Bagaimana kita mau tempati rumahnya kalau tidak memiliki atap sama sekali. Padahal sebelum dibangun, pengelolahnya mengatakan dengan dana rehab yang mencapai Rp10 juta rumah saya dipastikan bisa selesai dan dapat ditempati. Namun kenyataannya sangat jauh dari harapan kami. Terus terang sebagai masyarakat kecil kami sangat kecewa dengan pengelolah bantuan ini,”terang Karim

Selain terbengkalai, warga juga menanyakan tingginya harga material yang ditentukan oleh pengelola program BSPS di desa itu serta adanya potongan anggaran yang dibebankan kepada warga penerima bantuan. “Kami juga heran dalam catatan yang diberikan kepada kami, kenapa harga pasir mencapai 650 ribu per retase padahal normalnya harga pasir disini hanya 400 ribu rupiah saja. belum lagi harga semen yang mencapai 86 ribu per sak. Ada lagi pemotongan dana Lansia sebesar 1.5 juta rupiah, sehingga anggaran yang kami terima dalam bentuk material hanya berjumlah 8.5 juta rupiah saja,” terang warga dusun 4 ini.

Warga lainnya bernama Salmon juga menuturkan kekecewaannya lantaran mengalami hal serupa. Hanya saja kondisi rumah Salmon tak seperti rumah Karim sebab rumah yang dibangun untuknya itu sudah tertutup dengan atap seng, namun tak memiliki dinding sedikit pun dan hanya berlantai tanah. “Kalau rumah saya pak memang sudah tertutup seng namun dindingnya tidak ada sama sekali dan lantainya hanya tanah. saat kami tanyakan kenapa rumah saya tidak dilanjutkan pembangunannya pengelolanya mengatakan anggarannya sudah habis, jadi tidak bisa lagi dilanjutkan. Dengan kondisi seperti ini pastinya rumah kami tak bisa ditempati. Untung rumah saya yang pertama belum dibongkar jadi kami terpaksa menempati kembali rumah kami yang dulu,”terang Salmon.

Tim Tehnis BSPS Kolaka, Erna Nurdin yang ditemui menyesalkan terbengkalainya sejumlah rumah warga di Desa Petudua yang didanai oleh program BSPS tahun 2016, sebab kata dia, seharusnya program tersebut telah selesai dan diserahkan kepada pemiliknya sejak bulan Desember tahun lalu. Dirinya mengakui bahwa informasi tentang adanya masalah pembangunan rumah warga penerima bantuan BSPS di Desa Petudua telah diketahuinya beberapa waktu lalu saat program tersebut masih berjalan namun saat melakukan kunjungan ke desa tersebut beberapa rumah yang ditunjukkan oleh pengelolah di desa itu telah selesai dan sudah ditempati oleh warga.

“Saya baru mengetahui kalau masih ada rumah warga di desa itu yang belum selesai dibangun, padahal semestinya program tersebut sudah selesai pada bulan desember lalu. Memang dulu kami dengar ada masalah namun saat kami berkunjung ke desa itu ternyata tidak ada masalah. Kami menyarankan sebaiknya warga menyampaikan masalah ini ke Satuan Kerja (Satker) yang ada di Kendari sebab merekalah yang punya kewenangan dalam program ini.

Kontributor : Joni
Desain Terbaru

LEAVE A REPLY