Jakarta, Koran Sultra – Bupati Konawe selatan (Konsel), H. Surunuddin Dangga ST. MM bersama wakilnya Dr. H. Arsalim Arifin SE, M.SI dan Sekda konsel Drs. Ir Sjarif Sajang M.SI dalam rapat bersama dengan Dirjen Perkebunan Ir. Bambang, MM dan sejumlah perwakilan perusahaan yang memiliki izin usaha di konsel itu “Geram”.

Bagaimana tidak, pihak investor telah berulang-ulang memberikan janji manisnya kepada pemerintah daerah kabupaten konsel yang katanya akan mendirikan pabrik gula di konsel namun, hingga saat ini janji tersebut belum terealisasi, Selasa (25/7/17).

Saat menggelar rapat bersama di ruangan rapat Dirjen perkebunan, dua pemegang kebijakan tertinggi di konsel, mengancam akan berupaya melakukan pencabutan izin secara legal terhadap perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang produksi gula tebu yang di anggapnya bermain-main tidak serius berinvestasi di konsel.

Kemarahan Surunuddin-Arsalim bukanlah tanpa dasar, mereka menilai, pihak Investor gula yang memiliki izin usaha di konsel hanya ingin menguasai ribuan hektar lahan tidur yang kenyataanya sudah bertahun-tahun hingga saat ini belum adanya lahan yang di olah apalagi janji akan mendirikan pabriknya.

” jika belum ada perubahan, kami akan berupaya agar izinya (perusahaan gula) kita cabut,” tegas Surunuddindi hadapan sejumlah perwakilan perusahaan.

Surunuddin mengatakan, masyarakat konawe selatan (konsel) yang bermukim di sekitaran lahan tidur milik perusahaan, tidak bisa sama sekali di kelolah masyarakat karena akan berbenturan dengan hukum yang ada sesuai kepemilikan izin perusahaan.

” harusnya tanahnya dapat diolah,bercocok tanam, karena lahat tersebut bukan milik mereka melainkan perusahaan, akhirnya lahan itu di abaikan saja,” ungkapnya dalam forum rapat di ruang rapat Dirjen Perkebunan.

Hal senada pula di katakan wakil Bupati (Wabub) konsel, Arsalim, dalam rapat kali itu, ia menekankan kepada Investor untuk tidak hanya selalu membuat janji terkait penggunaan lahan dan pembangunan pabrik.

” jika seperti ini, hanya akan menjadi angan-angan belaka. Yang akan terus menerus dan semakil lamah,” cetusnya.

Mantan Kepala Bapeda ini juga menyoroti lemahnya perhatian pemerintah pusat terhadp masaalah yang terjadi di konset tersebut.

” semestinya pemerintah pusat melalui Dirjen perjebunan harusnya menyikapai hal ini. Mengingat pertemuan seperti ini sudah beberapa kali kami lakukan di daerah, akan tetapi tidak pernah ada tindakan riil oleh pihak investor,” kesalnya di hadapan perwakilan perusahaan.

Lanjutnya, Arsalim berjanji, pemerintah daerah akan berupaya keras mengeliminir hal-hal yang jadi alasan investor main-main dengan Izin yang dimilikinya. Alasan investor yang membuat urung berinvestasi seperti kurangnya lahan untuk pembangunan pabrik, pasokan tebuh sebagai bahan baku pembuatan gula akan menjadi perhatian serius pemda.

“Kita akan upayakan pinjamkan hutan produksi memamfaatkan plasma di lahan Eks transmigrasi agar volume pasokan tebuh nantinya dapat memenuhi permintaan pabrik, jadi kita akan siapkan kekurangan lahan yang mencapai 12 rubu hektar ,” katanya.

Alhasil, dari rapat berama ke dua belah pihak, Dirjen Perkebunan, Ir. Bambang MM, langsung mengultimatum pihak perusahaan lewat perwakilanya yang hadir yaitu; PT. Tiran sulawesi, PT Kilau Indah Cemerlang, PT Marketing selaras dan PTPN XIV dengan nota kesepahaman atau MoU disepakati dalam forum tersebut. Yang intinya, pemerintah pusat dalam hal ini kementerian pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan, bersama Pemerintah Provinsi, kabupaten Konawe Selatan dan pihak investor akan bersinergi dan menargetkan pada tahun 2019 pabrik gula harus berdiri dan beroperasi di Konawe Selatan lewat pembentukan tim percepatan pembangunan pabrik gula.

Kontributor : Kasran
Desain Terbaru

LEAVE A REPLY