Ilustrasi sertifikat palsu

LASUSUA, KORAN SULTRA- Kepala Desa (kades) Latowu, A.Ahwal dilaporkan Kepolisian Polsek Batu Putih Kabupaten Kolaka Utara Provensi Sulawesi Tenggara dengan Didugaan memalsukan surat tanah kepemilikan lahan tambak seluas 4 Hektar Are (Ha)

Pemilik tanah Jupri Ali (55) warga Desa Latowu mengatakan, tanah saya akan dijual M Yunus sehingga saya laporkan ke Sekdes Latowu Ridwan, S.Pd tanggal 16 Mei 2017 dan surat panggilan pada tanggal 17 Mei 2017 dengan nomor 045.2/62/Ds-Ltw/V/2017, saya dipertemukan dengan M.Yunus warga Balantang, Malili Kabupaten Luwu Timur yang mengaku memiliki tanah 4 hektar diLanipa-nipa desa Latowu mengaku milik ayahnya Ali Rukka (almarhum) dengan dasar surat no.593.3/06/1997, dari pertemuan berlangsung di Kentor desa pada tanggal 17 Mei 2017 tidak ada penyelesaian dan akan berlanjut diKantor Kecamatan. ungkapnya.

“Tanah almarhum Ali Rukka sudah dijual dengan orang lain yang tidak jauh dari Lokasi Tambak yang saya miliki, sementara M. Yunus (anak Ali Rukka) menuntut tanah hak milik saya berdasarkan suratnya yang tidak jelas lokasinya dimana dan luasnya berapa,” jelasnya

yang binggungnya lanjut Jupri, kami belum bertemu dengan Camat Batu Putih untuk menyelesaikan sengketa tanah, tiba-tiba Kades Latowu terpilih A.Ahwal mengeluarkan Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (SPPFBT) atas nama M. Yunus (61) Rabu, 17 Mei 2017 sementara Kades A.Ahwal juga mengeluarkan Surat Pengantar Penyelesaian Sengketa tanah ke Camat Batu Putih tertanggal 23 Mei 2017 dengan nomor 045.2/…/Ds-Ltw/V/2017. ujarnya

“Ini sudah pemalsuan dokumen, karena surat kepemilikan diberikan kepada M Yunus, padahal tanah tersebut masih dalam sengketa, ada apa Kades mengeluarkan surat tersebut, apakah Kades Latowu ada hubungan keluarga dengan M. Yunus atau ada dugaan Kades akan dapat sebidang tanah kalau tanah 4 HA itu dijual dengan M.Yunus,” ujarnya

Saat pertemuan diKantor Desa kami tidak bersama saksi-saksi, karena kami pikir saksi akan dihadirkan diKantor Kecamatan, tidak benar kami tidak memiliki saksi, kami punya saksi antaranya, Hamid (40), Sulham dan Basri. ungkapnya

“Kasus penyerobotan lahan dan dugaan pemalsuan surat yang diterbitkan Kades Latowu A.Ahwal sudah kami laporkan KePolsek Batuputih untuk diproses,” ungkapnya

Hal senada yang diucapkan Hamid (40) warga desa Latowu mengatakan, lokasi tambak seluas benar milik Jupri karena saat almarhun Mahmud G menjabat Kades Latowu tanah tersebut mengizinkan masyarakat untuk dikelola, jadi tidak benar Almarhum Ali Rukka memiliki tanah seperti apa yang Di akui anaknya M Yunus.

“Ali Rukka (almarhum) memiliki tanah namun jauh dari lokasi empang itu dan tanah tersebut sudah lama dijual kepada Basso Pettana Besse,” ujarnya

Pemilik tanah yang dekat lokasi empang milik Jupri antaranya, Baso,Sulham baru Jupri yang diapit tanah milik Anto, Sulham, Hamid, Haduma dan Mustaring. ujarnya

salah satu warga yang enggan disebutkan namanya menjelaskan, pemicu tanah empang singga diakui kepemilikan M.Yunus akibat dari makelar Rustam warga Makuaseng, Rustam ini sudah sering mengurus tanah yang mengatasnamakan kepemilikan M. Yunus anak dari almarhum Mahmud.G, dengan dasar surat yang mereka bawa seenaknya saja menyerobot lahan orang lain.ungkapnya

“Perovokatornya Rustam Warga Desa Makuaseng ini, karena ada juga lokasi yang mereka jual namun sampai saat ini bermasaalah dengan warga loho oloho dilokasi dusun lanipa nipa Desa Latowu” katanya

Modusnya dengan surat itu, mereka menyerobot lahan orang lain,dengan maksud kalaupun pemilik lahan jenuh dengan teror itu maka mereka mengajukan penawaran pembagian lokasi yang bukan milik mereka,” ujarnya

Seperti sengketa lokasi empang seluas 4 ha milik Jupri ini, M. Yunus mengakui juga miliknya, yang anehnya berdasarkan surat itu lagi dan lebih aneh lagi Kades Latowu A.Ahwal mengeluarkan SPPFBT tanpa dasar sementara tanah ini masih dalam sengketa. ujarnya

“Informasinya tanah tersebut sudah dijual M. Yunus bersama Rustam dengan harga perhektarnya Rp. 65 juta, sementara saksi mereka tidak tau menau tanah tersebut,” katanya

Anehnya lagi informasi dari Kades Latowu A.Ahwal, pernah mengatakan lokasi milik Jupri akan mereka kerja dengan alat berat dan apabila Jupri yang jadipemilik sah tanah tersebut maka akan digantikan biaya pekerjaan ini, anehkan, tanah milik Jupri dikerja denganorang lain tanpa disuruh kerjakan lqhan itu. ujarnya

Kepala Desa Latowu A.Ahwal yang dihubungin telpon selulernya menjelaskan, saya keluarkan surat SPPFBT karena M. Yunus memiliki saksi sementara Jupri tidak memiliki saksi kepemilikan tanah empang seluas 4 ha itu.

“Tidak mungkin surat SPPFBT dikeluarkan tanpa dasar surat-surat dan saksi hidup yang menguatkan kepemilikan tanah M. Yunus termaksud Rusdi anak Mantan Kades Almarhum Mahmud.G,” ujarnya

Adapun surat pengantar tertanggal 23 Mei 2017 yang saya keluarkan untuk diselesaikan diKantor Kecamatan, untuk ditindak lanjuti apabila tidak menerima keputusan dari Surat SPPFBT yang saya buat tertanggal 17 Mei 2017 lalu. ujarnya

Saksi-saksi yang ada dalam SPPFBT yakni, Abdul Halim (75) warga dusun 4 Latowu, dan Rusdi (53) warga desa Latowu bukan berbatasan dengan tanah milik saya, seharusnya tanyakan ke Hamza Pangerang dan Baso Pettana Besse yang berbatasan dengan tanah saya yang diberikan mantan Kades Latowu (almarhun) Mahmud.G. tahun 1997. ujarnya.

Kapolsek Batuputih AKP Jamaluddin Saho membenarkan Laporan penyerobotan dan dugaan pemalsuan surat yang dilakukan KadesLatowu A.Ahwal. ujarnya

“Pelapor Jupri sudah kami periksa bersama saksinya bersama Kades Latowu, besok akan dilangsungkan pertemuan di Kantor Kecamatan Batuputih,” katanya

Dan dilanjutkan peninjauan lokasi empang 4 ha yang disengketakan, adapun kelanjutan kasus akan diserahkan ke Satreskrim Polres Kolut. Besok kami lihat begaimana penyelesaiannya. Ujarnya.

Kontributor : Israil Yanas
Desain Terbaru

LEAVE A REPLY