Bukti Kuwitansi pembelian obat di Apotek milik Dokter ahli penyakit dalam Foto: Bensar
Bukti Kuwitansi pembelian obat di Apotek milik Dokter ahli penyakit dalam Foto: Bensar

RAHA, KORAN SULTRA-Tak kapok-kapoknya dokter ahli penyakit dalam ini, sering disoroti masyarakat, bahakan pernah di hering di DPRD Muna. Pasalanya, sejumlah pasien mengeluhkan pembelian obat yang nilai harganya tinggi. Serta saat diberikan resep, para pasien selalu diarahkan membeli obat diapotek pribadinya.

Selain harganya mahal, resep yang diberikan tidak terdaftar dalam BPJS. Sementara di Apotek RSUD obat itu tersedia dan harganya jauh lebih murah. Hal ini kerap dilakukan oknum Dokter tersebut. Bahkan Dierktur RSUD Muna, sudah dua kali menegur secara lisan dirinya, namun teguran itu tidak membuat Dokter Wahid kapok, malah tindakan ini terus diulangi.

Keluhan Husno (25) warga Desa Korihi Kecamatan Lohia Kabupaten Muna, keluarga pasien yang dirawat di ruang Flamboyan lima mengatakan, kalau keluarganya diarahkan untuk membeli obat dengan resep yang diberikan dr. Wahid di apotik Surya Farma, namun mereka menolak.

“Diarahkan beli obat di luar bahkan disuru tanda tangan keluarga, supaya diluar itu kita membayar, alasannya apotik rumah sakit tutup, sementara kita punya BPJS. Jadi apa gunanya BPJS ini?,” keluhnya saat ditemui depan ruang keluarganya dirawat, Selasa (11/4/2017).

Hal senada juga dikeluhkan oleh Badurung asal Desa Tanjung Pinang Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat, dirinya diberi resep obat yang harus di beli di apotik Surya Farma, sementara di apotik rumah sakit ada. Dan dirinya memiliki BPJS.

“Tadi saya di beri resep dari Dokter, untuk beli obat diluar, tetapi setelah keluarga saya mengecek di apotik rumah sakit, ternyata obat itu ada walaupun mereknya Generik,” tuturnya, Selasa (11/4/2017).

Direktur RSUD Muna, Dr Tutut Purwanto membenarkan. Dan tindakan Dokter Wahid ini sudah dua kali dirinya beri teguran lisan, bahkan pernah ada panggilan untuk dengar pendapat di DPRD Muna, terkait kasus yang sama dengan kali ini, namun oknum tidak pernah datang, dengan alasan beramacam-macam.

“Akibat perilaku oknum ini kita semua kena. Pihak kami juga pernah bersurat ke Dinas Kesehatan untuk menarik sementara Dokter Wahid ke Dinas, tapi sampai sekarang ini belum ada tindak lanjutnya. Dan hal itu pula sudah pernah dipertanyakan oleh Dewan waktu dengar pendapat lalu,” jelasnya, saat di temui di RSUD Muna yang baru dibangun, Rabu (12/4/2017).

Lanjut Dokter Tutut, kalau pasien yang memiliki BPJS, masalah obat dan rawat inap itu sudah ditanggung oleh pihak rumah sakit. Pihaknya juga tidak pernah mengarahkan untuk beli ke luar.

“Kalaupun ada oknum Dokter yang mengarahkan ke luar, cek dulu bagian farmasi, kalau ada beli disitu saja, perkara Dokternya suka atau tidak suka biarkan saja,” ungkapnya.

Dr Tutut menambahkan, obat Generik yang ada di apotik rumah sakit khasitnya sama dengan yang diberikan oleh resep Dokter tersebut, cuma yang membedakan merek dan harganya saja.

“Ini sudah yang keberapa kalinya terjadi. Saya himbau untuk masyarakat supaya lebih pintar, jangan pernah membawa resep ke luar, harus cek dulu ke apotik rumah sakit dan obat yang sesuai dengan BPJS itu lebih murah, nda mahal. Kecuali obat rumah sakit lagi kosong baru diarahkan beli diluar, nanti pihak kami menggantinya sesuai harga disini, tapi kalau harga obat jauh dari harga rumah sakit itu tanggung jawabnya oknum Dokter yang memberi resep,” pungkasnya.

Kontributor : Bensar
Desain Terbaru

LEAVE A REPLY