Foto salah seorang anggota TNI yang hendak menjumpai Hamzah Foto: Facebook Muzakkir Azis
Foto salah seorang anggota TNI yang hendak menjumpai Hamzah Foto: Facebook Muzakkir Azis

Dekri Adriadi, Kolaka Timur

Demi terganjalnya perut yang kosong, daun ubi pun dilahap. Bahkan bagi mereka, daun ubi adalah makanan pokok yang gratis. Mereka itu adalah Hamzah dan tiga orang anaknya. Kini istrinya telah pergi jauh, karena tidak mampu menahan hidup dengan sebatas mengkonsumsi dedaunan setiap harinya.

Hamzah(57), adalah warga desa Pesouha, Kecamatan pomalaa, Kabupaten Kolaka, yang saat ini belum resmi didata oleh pemerintah Kolaka. Hanya karena tidak memiliki surat keterangan pindah dari poso Sulawesi Tengah, hamzah pun tidak didata. Ia kini tersudutkan karena Kata pemerintah setempat, Hamzah bisa didata sebagai warga Kolaka. Asalkan memiliki surat keterangan pindah domisili dari pemerintah poso.

Bapak kelahiran Maros, Sulawesi Selatan itu, adalah warga miskin yang masih bertahan hidup, ketika konflik Poso beberapa tahun silam. Bersama tiga anaknya, kayu rapuh menjadi alas lelap. Tak ada keluarga, sanak sudara pun apa lagi.

Kandang Kambing yang saat ini di Jadikan Rumah oleh Hamzah dan tiga anaknya Foto: Facebook Muzakkir Azis
Kandang Kambing yang saat ini di Jadikan Rumah oleh Hamzah dan tiga anaknya Foto: Facebook Muzakkir Azis

Mereka Tinggal digubuk kecil, bekas kandang kambing milik salah seorang warga di pesouha. Tidak mampu membangun rumah, karena tanah sejengkalpun ia tak mampu membeli.

Tiga orang anak itu seharusnya sudah bersekolah namun apa daya, biaya pendidikan gratis hanya berlaku di pamplet pigur para calon politisi. Kini tiga anak itu tidak bersekolah, mereka hanya dapat memandangi seumurannya berpakaian seragam sekolah ketika melintasi dijalan. Hamzah tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa diam dan pasrah. Apalagi penyakit yang dideritanya saat ini, membuat bapak tiga orang anak itu lumpuh total.

Sungguh miris, namun itulah yang terjadi. Selama enam tahun tinggal didaerah nikel, ia hidup penuh dengan serba kekurangan. Dengan memeluk ketiga anaknya, Hamzah menceritakan kisahnya pada salah satu jurnalis yang menemuinya.

Tampak sejumlah warga mengunjungi kediaman Hamzah Foto: Facebook Muzakkir Azis
Tampak sejumlah warga mengunjungi kediaman Hamzah Foto: Facebook Muzakkir Azis

Kisah ini, membuat Muzakkir Azis Jurnalis asal Kolaka menjadi terharu hingga meneteskan air mata. Tidak heran ia pun mengunggah beberapa foto kandang kambing yang dijadikan rumah oleh Hamzah diakun facebooknya. Dalam postingannya, Muzakkir berharap netizen ikut membantu Share Postingannya.

”Kalau lihat ini, ingat ini, mata saya selalu berkaca-kaca, bahwa tinggal disebuah daerah yang dikenal dengan hasil tambangnya, tidak menjadi jaminan untuk hidup lebih baik. Apalagi mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Derah (Pemda), dengan status Eksodus konflik berdarah yang berbau SARA 1998 pecah di Poso. Kini Hamzah dengan Kondisi lumpuh, bersama ketiga anaknya hanya bisa pasrah untuk bertahan hidup. Dengan menempati bekas kandang kambing milik warga desa Pesouha, kecamatan Pomalaa sejak enam tahun terakhir. Adakah dari kita untuk berbaik hati, minimal sekedar menjenguk dan berbagi sesuap nasi kepadanya?, ” tulis Muzakkir Azis di akun pribadinya.

Foto selfi salah satu donatur dikediaman Hamzah Foto: Facebook Muzakkir Azis
Foto selfi salah satu donatur dikediaman Hamzah Foto: Facebook Muzakkir Azis

Sontak netizen pun mengomentari. ”Hamma dekat rumah ini, baru sy tau mantap infoX bro,” jawab Marsun Macung. ”bantu share dlu eee,” harap Muzakkir pada sejumlah akun yang ikut mengomentari statusnya itu.

Postingan Muzakikir pun dishare sejumlah akun. Berkat postingan itu, saat ini Sejumlah donatur berdatangan dari berbagai penjuru guna berlomba lomba untuk memberikan bantuan terhadap Hamzah eksodus dari poso.

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY