Kolaka, Koran Sultra – Kejaksaan Negeri Kolaka menuai Sorotan terkait Kasus Penganiayaan yang kini tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Kolaka.

Pasalnya, Kasus Penganiayaan yang dialami oleh Kades Pu’ulawulo, Mutmain yang terjadi pada bulan oktober tahun 2016 lalu ini dianggap tidak sepadan dengan tuntutan Jaksa yang menuntut Walfajri (pelaku) dengan Tuntutan 3 Bulan Kurungan.

Diketahui Terduga Pelaku adalah warga yang berasal dari desa Kafu kecamatan samaturu kabupaten kolaka.

Menurut Mutmain (Korban), kronologis penganiayaan terhadap dirinya oleh tersangka, itu terjadi dirumahnya sendiri, saat dirinya di datangi oleh tersangka atas tuduhan pengrusakan kuburan yang sebenarnya itu kuburan yang di maksud oleh tersangka sebenarnya tidak ada. imbuhnya.

Diceritakannya, saat dirinya menyuruh pelaku untuk duduk, saat itulah dia langsung di beri bogem mentah dengan menggunakan besi milik pelaku, sehingga darah korban mengalir di kepalanya, setelah itu pelaku hendak keluar dan mencabut gagang pintu miliknya dan kembali menyerang korban sehingga di beberapa titik di badannya mengalami luka luka lebam dan biru biru, sehingga dirinya tidak dapat melakukan aktivitas selaku selayaknya sebagai kepala desa untuk melayani warga, beber.

Akibat insiden penganiayaan yang dialaminya Korban langsung melapor ke Polisi,
Korban Merasa aneh terhadap barang bukti pelaku yang diangggapnya tidak semua dimunculkan, “ masih ada lagi bukti bukti yang tidak di munculkan pada saat persidangan berupa sebuah bogem besi milik tersangka yakni yang di gunakan pada saat pertama kali memukul kepala ku hingga bercucuran dengan darah” katanya.

” saya sempat menanyakan kepihak penyidik jika masih ada barang bukti berupa bogem besi yang di gunakan oleh tersangka pada saat tersangka memukulku, namun penyidik berkata jika bukti- bukti yang ada itu sudah cukup dan sudah berat hukumannya” tutur Mutmain pada koran ini.

Ironisnya dengan kasus ini dan di dalam proses persidangan, pihak kejaksaan hanya menuntut tersangka dengan tuntutan hukuman selama 3 bulan saja untuk itu pihak korban sangat kecewa dan merasa di diskriminasi, apa lagi dia merupakan kepala desa, dan lebih parahnya lagi pelaku belum di tahan sampai saat ini,ada apa dengan pihak kejaksaan yang menangani kasusnya. “sebenarnya ada apa dengan pihak kejaksaan yang menangani kasus saya ini ,mengapa kasus penganiaan hanya di kenakan hukuman tiga bulan saja untuk tersangka” katanya.

Sementara itu kajari kolaka Jefferdian SH, di temui (26/5) mengatakan bahwa dalam penentuan tuntutan jaksa itu melalui ketelitian, artinya sudah di pikir pikir dan di pikir lagi, hal itu di lakukan secara hati – hati dengan melihat fakta persidangan dan barang bukti yang ada, untuk itu dirinya berharap sekiranya pihak keluarga korban memberikan kepercayaan dalam penanganan kasus ini, jelasnya.

Dirinya menyadari jika pihak keluarga mungkin tidak dapat menerima pembacaan tuntutan tersebut, namun seperti itu penetapan tuntutan jaksa yang harus di berikan dengan melihat berbagai aspek perkara yang ada,

” saya berharap pihak keluarga sabar, ini baru pembacaan tuntutan, bisa saja nanti divonis hakim lebih rendah atau lebih tinggi dari pada tuntutan, saya janji jika hakim tuntut tersangka saya eksekusi” janjinya
“ namun hal ini tetap kami jadikan sebagai bahan evaluasi dan berusaha memberikan kepuasan lebih baik lagi kepada masyarakat masyarakat dalam penegekan hukum tanpa ada diskriminasi dan kami akan menindak lanjuti secara tegas sesuai hukum yang berlaku di negeri republik ini siapapun dia dan siapapun orangnya kami tidak tebang pilih dan yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar dan pihak kami akan menindak lanjuti sesuai hukum yang berlaku di negeri ini” tegasnya (AJ)

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY