Logo Kongres PMII Palu Dok: Citizen Palu

PALU, KORAN SULTRA– Forum tertinggi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang diselenggarakan di Kota Palu, provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), di aula Masjid Agung Kota Palu lukai hati masyarakat Sulawesi.

Kegiatan yang dilaksanakan setiap dua tahunan itu, dihadiri sekitar 7.000 kader PMII dari sabang sampai merauke.

Peserta kongres mulai berdatangan mulai hari minggu kemarin, sejumlah kegiatan telah berjalan sebelum pembukaan oleh Presiden RI Joko Widodo. Seperti kuliah umum yang dibawakan oleh Kapolri dan Menteri Agama RI.

Selain Kepala Negara, sejumlah menteri kabinet kerja juga hadir dalam acara ini. Di antaranya Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir, dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Hadir pula Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang juga Ketua Umum PB PMII periode 2001-2003 Nusron Wahid, dan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang Ketua Umum PB PMII periode 1994-1997, Muhaimin Iskandar.

Pembukaan kegiatan tersebut begitu luar biasa dan mendapatkan apresiasi, khususnya bagi kader PMII yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dihelat di Sulawesi Tengah, termasuk kinerja panitia kongres, karena menghadirkan sejumlah tokoh dan pejabat nasional dalam momen tersebut. Apresiasi tersebut dituliskan di dinding-dinding media sosial kader maupun simpatisan PMII.

Namun dibalik apresiasi tersebut, Alumni mahasiswa Ekonomi UMI menyesalkan penyataan Ketua PB PMII yang menganggap tanah Tadulako sebagai pusat radikal Islam dan gerakan menentang NKRI.

“Pak presiden kami sengaja laksanakan kongres di Tanah Tadolaku bertema meneguhkan konsensus bernegara untuk Indonesia berkeadaban. Tanah ini pusat radikal Islam, di tanah ini pusat dari gerakan menentang NKRI, PMII sengaja membuat tanah ini untuk membuktikan jika PMII tidak sejengkal untuk mereka yang mau mengubah Pancasila dan mengancam NKRI kami tidak mundur. Sebelum kami maju ada Pak Tito yang maju duluan, ada kakak Banser, kalau Pak Tito sudah kalah baru PMII maju,” kata Aminudin

“Saya sangat menyesalkan pernyataan Aminuddin Ma’ruf yang mengatakan bahwa palu sebagai pusat radikal islam dan pusat gerakan yang menentang NKRI, hal ini akan menyakiti perasaan masyarakat palu bahkan seluruh penduduk pulau Sulawesi” tegas Aras yang sekarang melanjutkan studinya di Univ. Mercu Buana.

“Sebagai tamu, harus mengedepankan sikap sopan santun terhadap tuan rumah, kalau dalam Suku Bugis sipakatau, sipakalebbi dan sipakainge, bukan justru menyakiti hati dan membangun image buruk terhadap masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah dan penduduk pulau Sulawesi pada umunnya” tutup aktivis asal Bone yang kini membina lembaga kajian Lamellong Institute.(**)

Kontributor : Citisen Asal Palu
Desain Terbaru

LEAVE A REPLY