rusda dan masjid yang dibangun
Lasusua, Koran Sultra – Dalam masa kepemimpinan Bupati Kolaka Utara Rusda Mahmud – Bobby Alimuddin Page memasuki tahun kelima periode Kedua boleh dikata telah menunjukkan prestasi yang patut diacungi jempol.

Dengan Visi Misi “ Semua Untuk Rakyat”, Rusda Mahmud sebagai Leader dalam memimpin telah mewujudkan karya nyata disegala aspek pembangunan di daerah ini.

Salah satu wujud Karya Nyata Pemerintahan Kolaka Utara saat ini dibidang keagamaan Pihak Pemerintah setempat melakukan Pembagunan Sarana Ibadah Masjidyang terbilang megah dan mewah bahkan hingga kepelosok Desa.

Diwilayah Kolaka Utara khususnya dikota lasusua terlihat jelas, selain Masjid Agung kebanggan masyarakat Kolaka Utara yang diberi nama Bahru Rasyad Wal Ittihad yang dibangun diatas lautan, terlihat pula Bangunan masjid ditepian jalan poros dengan megah dan elegan, ini membuktikan pemerintah kabupaten kolut untuk menjadi Daerah Religi segera terwujud.

Pemkab Kolut Bangun Ratusan Masjid

Puluhan masjid yang terbangun dalam masa jabatan Rusda Mahmud-bobby Alimuddin Page Sebanyak 279 masjid yang terbangun sejak tahun 2013-2016.
yang membuktikan ketulusan yang tidak perlu disangsikan lagi. Segala dukungan fasilitas telah disiapkan dalam mensejahterakan para imam Masjid, Guru mengaji bahkan Taman Pendidikan Al_qur”an (TPA) diberikan tunjangan.
Untuk menciptakan Pembangunan yang efektif dan akuntabel Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara dinahkodai Rusda Mahmud dan Bobby Alimuddin Page mempunyai Program andalan yaitu Trilogi pembangunan dalam artian pembangunan tiga dimensi antaranya, pemerintahan, religius dan pendidikan.

Konsep Trilogi Pembangunan Di Galakkan Pemerintah

Ketiga dimensi trilogi pembangunan diibaratkan manusia yang tidak terpisahkan satu sama yang lain. Dimana sarana perkantoran diibaratkan tubuh manusia sementara Sarana Ibadah masjid sebagai hati dan Perpustakaan sebagai Otak atau kepala manusia.

Ketiga dimensi pembangunan diterjemahkan melalui pembangunan sarana perkantoran yang terpusat dan model bangunan kelihatan megah, sehingga pemerintahan berjalan efektif dan juga diharapkan memiliki sumber daya aparatur yang cerdas, berintegritas, dan berahlak, dengan kata lain pemerintahan yang baik (good governance). Dengan sumber daya aparatur terpelajar dapat mengambil kebijakan secara mandiri setelah melalui proses pengkajian dengan hasil Memberikan pelayanan yang efisien dan efektif.
Dalam dimensi religius dibangun sejumlah Masjid sebagai sarana Mayoritas Agama Islam di kabupaten Kolaka Utara. Salah satunya pembangunan masjid Agung nan megah dipusat kota lasusua dan beberapa Masjid di Kolut. Sebagai insane yang berprilaku agamawan, naik sikap, perbuatan, adab dan sopan santun yang meneladani perilaku para Nabi.

Untuk dimensi Pendidikan pemerintah Kolut membangun kantor Perpustakaan yang mirip Kapal dengan berdinding kaca ditengah kota lasusua menghadap ke laut dan pembangunan perpustakaan di desa-desa yang menjadi solusi mencerdaskan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Khususnya pendidikan yang berada di pesisir pantai,seperti di Desa Sulaho (suku bajo), nelayan di Pakue, Batu Putih dan Tolala.

Selain pembangun infrastruktur perkantoran, Masjid dan Perpustakaan, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pemerintah kolut membangun 3 pasar tradisional selain pasar induk Pasar Lacaria Lasusua, pembangunan 3 pasar tradisional di tiga desa antaranya Pasar diDesa Pohu Kecamatan lambai, pasar diDesa Sarambu Kecamatan Porehu dan pasar tradisional diDesa Mosiku Kecamatan Batu Putih, dengan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2015 melalui Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disprindag) berkerja sama Dinas Pendapatan daerah (Dispenda) Kolut.

Tiga Pasar Tradisional Dibangun

Komitmen pemerintah kolaka utara untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sudah terbukti, dengan dibangunnya pasar Tradisional di beberapa desa. Masyarakat petani dan masyarakat sekitar pasar tradisional menjadi lahan tumbuh kembangnya perekonomian, sehingga tingkat pengangguran bisa berkurang.

Bupati kolaka Utara Rusda Mahmud mengatakan, pasar tradisional Pohu dibangun untuk menertibkan Pedagang dan memudahkan pembeli, sehingga hasil petani sayur di sekitarnya bisa dijual di pasar ini dan yang lebih mengutungkan bagi masyarakat adalah pengangguran yang akan berkurang akibat dari adanya aktifitas jual beli sayuran dan buah-buahan
“Jangan lagi ada impor cabe dari Sulawesi Selatan, karena kita mampu untuk mengembangkan segala macam jenis sayuran” katanya

Dengan adanya pasar tradisional ini perekonomian masyarakat semakin meningkat termaksud didesa yang lainnya. Sebagai daerah pertanian dan perkebunan diharapkan menjadi pusat produksi lokal untuk diperjual belikan baik itu sayuran dan buah-buahan yang ditanam sendiri oleh petani. Ungkapnya.
Pasar Tradisional Pohu memiliki empat bangunan, di atas lahan seluas 1 hektar.pasar ini dibangun menggunakan Anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2015 sebesar Rp. 932.800.000,-. Masing-masing bangunan terdiri dari 10 los saling berhadapan.

Lokasi Pasar Pohu seluas 1 hektar dan terbangun empat bangunan saling berhadapan, dengan ukuran setiap bangunan 12,5 x 7 meter dan 1 unit WC.
Pasar Sarambu, Desa Porehu, Kecamatan Porehu, Anggaran Rp. 819.500,000,- dan pasar tradisional di Desa Mosiku, Kecamatan Batu Putih, Anggaran Rp. 550 juta. (ADV)

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY