Kondisi Pasien di RSUD Koltim ini sungguh sangat memprihatinkan, selain berjuang melawan penyakitnya juga hrus rela tidur di lantai RS, foto : Dekri Adriadi
Kondisi Pasien di RSUD Koltim ini sungguh sangat memprihatinkan, selain berjuang melawan penyakitnya juga hrus rela tidur di lantai RS, foto : Dekri Adriadi

strong>Tirawuta, Koran Sultra – Sejumlah pasien yang dirawat di RSUD Kolaka Timur (Koltim) mengeluhkan mutu pelayanan. Banyak pasin terpaksa harus berbaring dilantai ruangan perawatan, padahal kondisi kesehatan mereka sedang meradang kesakitan.

Andi Muhidin contohnya, pasien ini yang tengah dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) mengatakan, jika dirinya sudah beberapa hari ini menginap di ruangan. Barhari-hari dirinya tidur melantai diruangan tersebut.

“Beginilah kondisi kami disini selama beberapa hari, tidur melantai tanpa ada pasilitas tempat tidur di rumah sakit ini,” ungkap Andi Muhidin.

Hal yang serupa juga di alami Asma, yang juga mengeluhkan kurangnya fasilitas di rumah sakit tersebut, sehingga juga tidur melantai, bahkan keluarga yang datang menjeguk juga duduk diteras melantai.

“Keluarga yang datang menjeguk terpaksa tidur melantai saja, bersama saya” ungkap Asma.
Direktur RSUD Koltim Irvan Lambata, tak menepis jika kondisi rumah sakit yang kini dipimpinnya memang serba kekurangan hingga berdampak pada minimnya pelayanan medis yang di rasakan pasien.

Irvan mengakui sejumlah fasilitas rumah sakit seperti ranjang rumah sakit yang tersedia memang belum ideal dengan jumlah pasien yang dirawat setiap harinya.
Bukan hanya itu saja, lanjut Irvan, sebenarnya masih banyak fasilitas yang belum lengkap, seperti ruangan pasien yang sempit dan terbatas. Ruangan petugas yang juga masih kurang, ruangan instalasi gizi yang begitu memperihatinkan, dan mobil ambulance yang juga sudah tak layak pakai.

Menurut Irvan, rumah sakit ini dulunya Puskesmas Welala. Namun pada Januari 2015 lalu oleh pemda setempat statusnya di ubah menjadi rumah sakit tipe D.

Sayangnya lanjut Irvan yang ditemui di ruang kerjanya sejak peningkatan status itu hingga saat ini belum ada anggaran yang digelontorkan.

“Dari sejak dijadikan RS hingga saat sekarang ini masih begini-begini saja keadaannya, tidak ada sama sekali sentuhan dari pemerintah setempat. Bahkan parahnya lagi anggaran tahun ini dikupas habis-habisan oleh pihak DPRD pada saat pembahasan anggaran,” ungkap Irvan kepada Koran Sultra.

Sebenarnya di tahun 2016 ini kata Irvan, pihaknya sudah mengusulkan pendanaan untuk pembangunan dan penambahan sejumlah fasilitas pendukung dengan total mencapai 110 milyar rupiah. nantinya dana tersebut akan digunakan untuk membenahi sejumlah sarana prasarana di rumah sakit tersebut.

Untuk diketahui di rumah sakit ini baru ada 10 dokter. Terdiri dari 5 dokter spesialis penyakit dalam dan anak. 3 orang dokter umum, 1 dokter gigi. Dan dokter spesialis ahli dalam dan anak masing masing 1 orang.

Kontributor : Dekri

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY