Oleh: David Wilfrid Rihi
Mahasiswa Magister Administrasi Publik Univ. Brawijaya Malang

Generasi muda merupakan aset penting yang menjadi tumpuan bangsa, ditangan Generasi muda, tampuk kepemimpinan bangsa digantungkan, tetapi bagaimanakah wajah generasi muda Indonesia masa kini? Generasi muda Indonesia masa kini atau disebut juga dengan Milennial sedang dalam kondisi yang dapat dikatakan sangat kritis dan memprihatinkan, mereka (Milennial) saat ini selalu ingin mengejar “Kekinian” demi sebuah “Pujian” yang selalu mengingini banyak hal walaupun sulit untuk mendapatkannya, seperti lirik Ost. Doraemon “Aku Ingin Begini Aku Ingin Begitu, Ingin Ini Ingin Itu Banyak Sekali”. Tetapi apakah generasi Milennial itu?

Millennials (also known as Generation Y) are the demographic cohort following Generation X (mostly in western countries). There are no precise dates for when this cohort starts or ends; demographers and researchers typically use the early 1980s as starting birth years and the mid-1990s to early 2000s as ending birth years, lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Millennials. Atau secara singkatnya, Millennials ini lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000 ke atas. Dengan kata lain, generasi millennial ini merupakan manusia-manusia muda yang saat ini berusia antara 15-35 tahun dan artinya saya juga termasuk generasi ini.

Generasi Millennials dinilai cenderung cuek dan skeptis pada keadaan sosial di sekitar mereka, mengejar kebanggaan akan merk/brand tertentu padahal orangtuanya makan dua kali sehari saja sudah bersyukur. Pulang kuliah atau kerja nongkrong di Starbucks, J.CO, KFC, padahal di kosan hanya makan mie instan. Selain itu Milennials juga berusaha untuk selalu terkoneksi di manapun padahal sulit untuk membeli kuota, eksistensi sosial ditentukan dari “like” semakin banyak like dari para pengikut di media sosial atau bahasa gaulnya Followers akan dirasa semakin membanggakan dan hebat, punya tokoh idola, afeksi pada genre musik dan budaya pop yang sedang Hits, suka #hashstag ini #hashtag itu, Pray For ini dan itu, dan semua gejala-gejala kekinian yang tak habis-habisnya membuat generasi orangtua pusing tujuh keliling. Milennials juga cenderung tidak peduli terhadap perkembangan politik dan ekonomi dunia, boro-boro situasi dunia saat ini, situasi di negeri sendiri saja nggak peduli!, yang mereka pedulikan adalah Followers mereka.

Milennials juga meninggalkan nilai-nilai budaya dan agama lalu mengejar nilai-nilai kebebasan, party, pergaulan bebas dan Hedonisme yang merupakan anak dari Materialisme. Kebanyakan generasi Milennial ini “Wanprestasi”, yang dikejar hanya “like” di media sosial supaya dibilang Up To Date a.k.a Update, Hey apa hebatnya itu? Injinkan saya mengutip perkataan Pak Ridwan Kamil, Hidup Ini Hanya Sekali, Jangan Mati dan Tanpa Prestasi!!! Seharusnya di usia produktif generasi Milennial sekarang ini menciptakan suatu karya yang dapat disandingkan, ditandingkan dan dibandingkan salah satu contohnya adalah “Tsamara Amany” yang memilih jalur politik ketika anak Milennials yang seusianya disibukkan dengan foto Instagram tak lantas membuat Tsamara berkecil hati. Sebaliknya, melalui jalur yang ia pilih, dirinya kini menjadi inspirasi anak muda lain untuk memberikan kntribusi dengan membawa perubahan positif melalui bidang politik demi membangun negeri, lihat: http://www.tribunnews.com/nasional/2017/04/28/saat-ahok-dapat-ribuan-karangan-bunga-perempuan-ini-justru-dapat-bunga-dari-ahok. Tetapi apa lacur, semakin hari generasi Milennial ini semakin menjadi-jadi, sekolah atau kuliah cuma jadi ajang pamer harta orang tua (untuk yang Kaya), dan jadi perjuangan untuk yang tipe BPJS, Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita. Ditambah lagi dengan Mental Inlander anak muda masa kini, sudah tidak terhitung lagi berapa kali Presiden Soekarno atau yang kita kenal dengan Bung Karno sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia dengan pidatonya yang khas dan menggelegar dan bergemuruh mengingatkan bangsa Indonesia agar jangan mau menjadi “Bangsa Kuli” yang menyusu pada bangsa lain baik bangsa barat maupun bangsa timur (A Nation Of Coolies and Coolie Amongst Nations).

Entahlah, saya juga bingung, yang jelas bangsa yang sudah merdeka lebih dari 50 tahun ini belum juga bisa naik kelas menjadi bangsa Majikan yang dapat merasuki bangsa lain, yang tua saat ini sedang asik mengkritik pemerintahan Pak Jokowi, yang muda lebih asik dengan selfie, tapi memang begitulah faktanya, saat ini generasi Millennial lebih mengidolakan bangsa lain (Inlander), Inlander menurut https://en.wikipedia.org/wiki/Native_Indonesians Translated from inlander in Dutch, the term was first coined by the Dutch colonial administration to lump diverse groups of local inhabitants of Indonesia’s archipelago, mostly for social discrimination purposes. Istilah ini disematkan oleh penjajah Belanda kepada orang Indonesia yang bersedia “dijajah” oleh “orang asing” anggapan itu tersembunyi jauh di dalam batin orang Indonesia namun tampak nyata dari Gesture tubuh atau pun bahasa lisan, dan bahkan dari perlakuan sehari-hari kepada “orang asing” meski masih dibungkus dengan kata “kita hanya ingin menghormati atau memuliakan tamu yang datang berkunjung” dan fenomena ini semakin hari semakin parah, ada yang Korea Lovers, ada yang Barat Lovers, ada yang Arab Lovers, ada yang India Lovers dan masih banyak lagi tapi tahukah kalian bahwa kita adalah kuli buat mereka? Kita selama ini menyusu pada budaya mereka, film-film mereka, gaya busana mereka, lagu-lagu mereka bahkan sampai ideologi mereka padahal Negara ini kaya, apa yang kurang dari Negara ini? Disini “Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman, Kail dan Jala Cukup Menghidupimu” seperti lagu lawasnya Koes Plus, di Negara mereka sangat sulit untuk melakukan hal seperti itu, budaya Negara ini ribuan banyaknya, kita punya Pancasila, kita punya pemandangan serta kekayaan alam yang luar biasa melimpah yang membuat iri Negara lain, mungkin sewaktu “Tuhan menciptakan Indonesia, Ia sedang tersenyum” tetapi anehnya Milennials ini mencintai dan menyusu pada Negara lain, sikap fanatisme terhadap bangsa lain tersebut juga diiringi dengan merendahkan dan mengkerdilkan bangsa sendiri, entah sampai kapan kita terus-terusan menjadi konsumen dan bukan produsen. Sebenarnya tidak salah jika kita menyukai bangsa lain, pasti bangsa lain pun berpikir sama seperti kita, tetapi janganlah mengCopy Paste segala sesuatu milik Negara lain, Negara ini punya banyak Sumber Daya Manusia muda yang kualitasnya dapat diperhitungkan dan dapat bersaing di dunia internasional, manfaatkan itu! Anak muda Negara ini harus menjadi subjek bukan objek, harus menjadi pemain bukan penonton! Tak apalah bila menghargai Negara lain tetapi cinta kita harus pada Negara ini “INDONESIA” itu harga mati! Sampai akhir menutup mata! Ubah “Mindset” kita tentang Negara lain, mereka tidak ada apa-apanya dibanding Negara ini. Milennials, Kitalah ujung tombak pembangunan Negara ini dan kita harus menghapus Stigma Inlander bangsa lain terhadap bangsa ini.

Sebagai penutup, saya mengutip perkataan Bung Karno:
“Seribu Orang Tua hanya dapat bermimpi, satu orang Pemuda dapat merubah dunia”.
“Bangsa yang tidak percaya terhadap kekuatan dirinya sebagai suatu Bangsa, tidak apat berdiri sebagai suatu Bangsa yang Merdeka”.

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY