Rumah Guru Sekolah (RGS) SD Negeri 1 Lametuna Kecamatan Kodeoha Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) kondisinya sangat memprihatinkan. Foto: Fyan

LASUSUA, KORAN SULTRA– Rumah Guru Sekolah (RGS) SD Negeri 1 Lametuna Kecamatan Kodeoha Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) kondisinya sangat memprihatinkan.

Bagaimana tidak, perumahan yang dibangun pada tahun 80an ini, hampir semua dindingnya yang terbuat dari kayu sudah rapuh dan berlubang ditambah lagi dengan kondisi atap perumahan tersebut bocor, akibatnya ketika hujan turun air menembus atap tersebut.

“Sudah beginimi pak kondisinya, kalau turun hujan saya selalu sibuk siapkan ember untuk menampung air hujan, karena atapnya sudah banyak yang bocor,” kata Mastiah, S.ag Salah PNS Guru Agama, yang menempati perumahan tersebut, Kamis (20/7/2017).

Dia mengaku, sudah menempati perumahan yang tak layak huni tersebut pada tahun 2014 lalu. “Saya sudah menempati perumahan ini mulai dari tahun 2014 sampai sekarang kondisinya masih seperti ini, ” katanya. Terkadang, tambah dia, kalau hujan semakin deras biasa mengungsi kerumah kerabat yang dekat dari perumahan.

“Saya kadang mengungsi di rumah kerabat saya pak kalau hujannya sangat deras, dan saya tetap bersabar, mudah-mudahan perumahan ini segera di rehab,” ucapnya dengan nada sedih.

Sementara, Kepala Sekolah (Kepsek) SD 1 Lametuna Hj. Mulhaeri. S.pd mengakui kondisi perumahan guru yang tak layak huni tersebut belum perna tersentuh tangan pemerintah. “Semenjak dibangun perumahan tersebut pada tahun 80an belum perna di lakukan rehabilitasi oleh pemerintah,” ucapnya.

Kata kepsek, pihaknya sudah mengajukan proposal kepada dinas terkait untuk dilakukan rehabilitasi untuk perbaikan perumahan guru dan beberapa fasilitas sekolah, namun belum perna direspon.

“Kami sudah mengajukan proposal namun belum perna direspon dari pemerintah,” katanya. Menurutnya, bukan cuman perumahan guru yang menjadi persoalan, tetapi fasilitas belajar siswa, seperti kursi dan meja sudah banyak yang rusak.

“Sudah banyak yang rusak, makanya kami sangat membutuhkan uluran tangan dari pemerintah,” ungkapnya. Memang, tambah kepsek, sudah ada satu perumahan guru yang perna dibangun tahun lalu, namun ditempati guru yang lain. “Saya juga prihatin dengan guru yang tinggal di perumahan guru tak layak huni ini, tapi kita tidak bisa berbuat apa apa,” tandasnya.

Untuk itu, mantan kepsek SD I Meeto ini berharap mudahan mudahan pemerintah dapat merespon permohonan bantuan untuk rehabilitasi perumahan guru tersebut dan beberapa fasilitas penunjang pembelajaran untuk untuk siswa. “Kalau memangnya belum dianggarkan tahun ini, saya berharap tahun depan bisa dianggarkan,” ucapnya dengan penuh harap.

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY