Seorang nenek sebatang kara, di Desa Langori, Kecamatan Bauala, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tinggal di sebuah gubuk diatas lahan milik warga.

Wanita kelahiran medan tahun 1943 tersebut, merupakan seorang imigrasi dari kota Tasikmalaya, Jawa Barat, yang menetap di kabupaten kolaka sejak tahun 1982 lalu.

Foto:   Dekri
Foto: Hartati alias tati 74 tahun, wanita kelahiran Medan, Sumatera Utara tersebut, merupakan seorang janda yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk Dekri

Dekri Adriadi

Hartati alias tati 74 tahun, wanita kelahiran Medan, Sumatera Utara tersebut, merupakan seorang janda yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk diatas lahan milik warga, di Desa Langori, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Tati pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Kolaka bersama suami keduanya yang merupakan warga kota Tasikmalaya itu, pada tahun 1982 lalu.

Bersama suaminya, Hartati yang merupakan imigrasi itu, dipercayakan oleh salah seorang warga di Desa Langori, sebagai penjaga kebun.

Belum cukup 10 tahun menetap di Kolaka. Tepatnya tahun 1989 silam. Suami kedua Hartati meninggal dunia. Dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU), Desa Langori.

Meski hanya hidup seorang diri, karena tidak memiliki anak dari pernikahan sepasang itu, Hartati tidak pernah patah semangat untuk menjalani hidup selama puluhan tahun.

Hartati yang sebelumnya pernah mendapat pembagian tanah kapling, di tempat dia bekerja sebagai penjaga kebun, terpaksa dijualnya untuk menutupi biaya hidup, sepeninggalan suaminya tercinta, selama puluhan tahun.

Rumah Gubuk tempat Hartati tinggal sebatang kara Foto: Dekri
Rumah Gubuk tempat Hartati tinggal sebatang kara Foto: Dekri

Mbak Tati, begitu orang memanggil namanya, Ia beberapa kali numpang di rumah warga di Desa Langori, hingga akhirnya pemerintah desa bersama masyarakat setempat membangunkan sebuah gubuk berukuran 3 x 4 meter, diatas lahan milik warga.

Demi bertahan hidup, Hartati yang kini telah lanjut usia, terpaksa terus melakoni pekerjaannya sebagai tukang pijat, yang mulai digeluti sejak suaminya meninggal dunia.

Sebab, bantuan dari pemerintah yang nilainya hanya mencapai 500 ribu rupiah per dua bulan dirasa tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari. Sementara untuk menerangi gubuk miliknya, Hartati mendapat aliran listrik dari tetangganya, yang tidak lain merupakan keluarga si pemilik lahan.

Kini, Hartati yang usianya sudah senja hanya bisa pasrah dengan keadaan, sembari berharap bantuan dan uluran tangan dari para dermawan.(**)

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY