1

Kolaka, Koran Sultra-Maraknya gelar pendidikan dewasa ini telah menjadi ajang formalitas belaka, layaknya seorang yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan. Melalui bangku sekolahan, pengetahuan seorang guru menjadi perioritas utama dalam menentukan kualitas anak didiknya. “Harusnya seorang guru dituntut untuk menyesuaikan diri sesuai dengan stantarisasi, keahlian, bidang study serta SK terkait hingga yang diajarkannya pun menjadi linear. Terang Arman, S.Ag staf KUA Tanggetada

Namun lain halnya dengan seorang guru di SDN 1 Wolulu Kecamatan Watubangga Sumarni S.Pdi (35 Thn), kini menjadi tak menentu layaknya pedagang asongan, bergerilya menjajal jualannya dimana produk disesuaikan dengan selera pasar. Guru bidang study Agama ini malah diberikan mata pelajaran muatan lokal (mulok) sesuai dengan perintah kepala sekolah yang mana hal tersebut bukanlah keahlian Sumarni.

Sebagai Kepala sekolah SDN 1 Wolulu, Ida S.Pd mengatakan, saya punya hak untuk menentukan dan mengatur tenaga pendidik saya, salah satunya guru S.Pdi yang mengajar agama, itu saya bagi masing-masing 2 kelas, hingga tidak ada kecemburuan dari sesama guru. Ungkapnya saat di konfirmasi lewat telpon selulernya kamis (16/3).

Lanjut Ida, karenanya jika merasa jamnya kurang, dia (sm) dipersilahkan untuk mencari jam tambahan di sekolah lain kalau mau cepat sertifikasi. karena Kita harap agar guru-guru di sini cepat sertifikasi”. Tambahnya

Sementara itu, kepala UPTD Kec. Watubangga, Sastin mengatakan bahwa dirinya pernah mananyakan perihal (sm) tersebut kepada Kepsek SDN 1 Wolulu, ironisnya Ida mengatakan, “saya lebih baik berhenti menjadi kepala sekolah daripada Sumarni mangajar disitu”. Tuturnya

Disisi lain, Ali “operator sekolah” membenarkan adanya dilema yang terjadi di sekolahnya, menurutnya dilema itu terjadi pada saat pengimputan data dapodik, yang mana tugas bagi seorang guru kelas dan guru bidang study adalah dua hal yang berbeda, data ibu Risma yang muncul sebagai guru kelas sementara Sumarni guru bidang study. Ucapnya saat ditemui di warkop dewi

Sumarni yang notabenennya bersuku bugis tersebut merasa canggung dalam mengajarkan bidang study muatan lokal dan sesekali cekikikan dalam hati karena salah ucap, “Itulah seninya menjadi guru, tapi kalau guru salah terus, pastinya murid akan jadi korbannya”. Imbuhnya saat di konfirmasi di rumahnya.

Kontributor : Hamdan
Desain Terbaru

LEAVE A REPLY