Proses perhitungan surat suara di Desa Anawua Foto: Asri Joni

KOLAKA, KORAN SULTRA– Pemilihan Calon Kepala Desa (Pilkades) di Desa Anawua, Kecamatan Toari, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, baru saja usai. Sayangnya, dalam pelaksanaan penentuan kepala wilayah di desa tersebut dapat sorotan pedas dari sejumlah calon kalah.

Pasalnya, dalam pelaksanaan pemungutan suara di desa itu, dianggap inprosedural. Banyak oknum yang semestinya tidak terlibat di pemilihan tersebut, justru ikut ambil bagian untuk memenangkan salah satu calon. Tidak heran, sejumlah calon kalah merasa tidak puas, sehingga menggugat hasil Pilkades tersebut.

Misalnya Rudding, salah satu calon Kades Anawua, menilai proses pelaksanaan Pilkades yang dilaksanakan, Senin (22/5) lalu nenuai kecurangan. Calon nomor urut 3 ini merasa tidak puas dalam pelaksanaan Pilkades serentak di wilayahnya. Kata dia, ada kecenderungan oknum dari pihak kecamatan ikut bermain curang, dengan tujuan meloloskan salah satu kandidatnya.

”Anehnya, ada orang dari kecamatan yang ikut membagikan kertas surat suara, sementara ia sama sekali bukan panitia penyelenggara,” kata Rudding pada Koran Sultra.

Selain itu, saat pelaksanaan berlangsung, kata Rudding, pihak camat Toari juga ikut bolakbalik di lokasi pencoblosan. ”Padahal mereka itu bukan panitia penyelenggara pilkades,” ketusnya.

Rudding menduga, ada sejumlah orang yang melakukan pencoblosan dengan menggunakan kertas surat suara dobel, dengan cara melipat dua kertas. Hal itu dibuktikannya saat penghitungan hasil suara di desa tersebut membengkak.

”Padahal, surat panggilan yang beredar hanya berkisar 410 lembar, sedangkan yang hadir dalam pencoblosan hanya 375 orang. Namun ironisnya, saat penghitungan hasil suara, jumlah surat suara termaksud suara batal dua, menjadi 381,” ungkapnya.

Sehingga ia menilai terjadi pembengkakan surat suara. Sebab, jumalah total surat suara, tidak sesuai dengan jumlah surat panggilan yang hadir, termaksud empat calon.

”Sebagian calon kades tidak menerima hasil Pilkades di Desa Anawua, sehingga kami bakal melakukan gugatan. Surat gugatan saya, sudah masuk di BPMD Kolaka untuk ditindak lajuti,” jelas Rudding.

Sementara itu sekertaris Panitia Pemilihan Kepala Desa, Desa Anawua Mardin Fahrun, yang dikonfirmasi tidak berkomentar banyak. Sebab, kata dia yang dapat menjawab persoalan tersebut, hanya ketua panitia Pilkades.

“Saya juga heran kenapa terjadi selisi, hasil suara dengan surat panggilan yang masuk ke panitia. Jadi semua ini hanya ketua panitia yang bisa menjawab,” ujarnya.

Kata dia, pihak calon nomor urut tiga sudah melakukan gugatan di BPMD Kolaka. Karena merasa tidak puas hasil pilkades di Desa Anawua.

Untuk diketahui, dalam perhitungan hasil perolehan suara di Desa Anawua, nomor urut 1 memperoleh (146 suara), nomor urut 2 (89 suara), nomor urut 3 (141 suara), dan nomor urut 4 memperoleh (3 suara), sedangakan untuk suara batal ada 2.

Kontributor : Asri Joni
Desain Terbaru

LEAVE A REPLY