Sobiring (69) kakek miskin dari Kolut Foto: Istimewa Sofyan
Sobiring (69) kakek miskin dari Kolut Foto: Istimewa Sofyan

Sofyan: Koresponden Kolaka Utara

Sobiring (74), itulah nama kakek miskin di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara. Kakek ini sempat mengharumkan nama Kolut dengan genggaman medali dalam pembuatan kaligrafi pada medio 90 an.

Nama beliau mungkin tidak asing lagi di telinga masyarakat, serta pemerintah yang ada di Kolut. Sebab, kakek ini pernah mendulang prestasi di tingkat provinsi Sultra, karena karyanya yang menulis kaligrafi PPK Kolut sebagai perwakilan anggota PKK.

Selain itu kakek miskin ini juga pernah dipercayakan menjadi komentator dalam setiap pertandingan sepak bola di kolut.

Tidak hanya itu, kelebihan yang dimiliki kakek Sobiring, ceramah agamanya selalu dinanti masyarakat kolut. Tak jarang, ia selalu dipanggil untuk memberikan ceramah pada hari besar umat muslim.

Seiring berjalan waktu, para pejabat pun tertarik, dan mulai melirik potensi pak Sobiring dalam hal pemerintahan, ia selalu dipanggil untuk membantu pemerintahan, khususnya pemerintahan desa. Tak heran, dalam satu desa ia dipercayakan mengemban tugas lebih dari satu.

Namun sayangnya, semua yang dilakukan kakek miskin ini, hanya tinggal kenangan. Jasa – jasanya tak diingat lagi. Apa lagi dengan kondisinya yang saat ini sangat memprihatinikan. Ia hidup hanya mengandalkan rejeki lebih dari tetangganya.

Ia tinggal di desa Lametuna Kecamatan Kodeoha Kolut. Menempati rumah panggung berukuran 4×4 meter saja. Dinding rumahnya dipenuhi rayap, rupanya tempat berteduh kakek itu mulai ruboh sedikit demi sedikit.

Kediamannya, sering digenangi air, tatkala hujan mulai bermusim. Tak jarang, ia harus tidur menggunakan selimut yang basah akibat air hujan. “Saya biasa tidur dengan selimut basah, mau bagaimana lagi, saya tak punya modal untuk memperbaiki dinding rumah saya. Makan sehari – hari saja susah,” tuturnya sembari mengusap air matanya.

Ia bercerita, terkadang jika disaat keperluan dapurnya sudah habis, Ia terpaksa ke rumah tetangganya tanpa menahan rasa malu, demi sesuap nasi.

Namun tetangganya tak perna merasa terbebani dengan apa yang Sobiring lakukan, “Saya merasa tak terbebani, ketika ia datang ke rumah hanya untuk sekedar meminta sesuap nasi. Karena saya sudah menganggap Sobiring sebagai orang tua saya, kalaupun ada rejeki lebih, saya berikan kepada Sobiring, karena kita tahu bagaimana kondisinya sekarang,” kata Jumran, warga desa Lametuna.

Penderitaannya pun semakin bertambah, ketika matanya mengalami katarak, penglihatannya pun terganggu, terkadang ia harus meminta kepada tetangganya untuk membantunya menunjukkan jalan saat hendak pulang kerumahnya pada malam hari.

Sobiring (69) kakek miskin dari Kolut Foto: Istimewa Sofyan
Sobiring (69) kakek miskin dari Kolut Foto: Istimewa Sofyan

Mata Sobiring sebelumya sudah perna dioperasi. Namun, operasinya tak membuahkan hasil, sehingga matanya tak kunjung sembuh dan kembali normal. “Mata saya sudah pernah dioperasi, namun tak kunjung sembuh,” tutur Sobiring.

Sobiring mengaku selama ia tinggal di desa lametuna, ia merasa tidak perna diperhatikan oleh pemerintah setempat. Pemerintah seakan pura-pura tidak tahu apa yang dialami Sobiring, hanya tetangganya yang sering memperhatikan kondisi Sobiring.

Padahal, ia sudah menjadi warga desa lametuna beberapa tahun lalu, dan telah banyak memberikan kontribusi pada pembangunan desa lametuna tersebut, “Saya tidak perna diperdulikan, hanya tetangga saya yang sering peduli sama saya. Padahal, saya sudah menjadi warga desa lametuna,” ucapnya dengan pilu.

Sobiring sebenarnya bukan asli pribumi kolut, ia merupakan perantau dari pulau jawa. pada koran Sultra, Sobiring menceritakan bagaimana ia bisa sampai dan menetap di desa lametuna.

“Saya asli dari pulau jawa, perantauan saya diawali pada tahun 80an, saya merantau di sulawsi tenggara ( Sultra ), saya depresi karena selalu bertengkar dengan istri saya. Pertama kali saya menginjakkan kaki di kolut ini, saya tinggal di desa tiwu, dan alhamdulillah selama saya dua tahun di desa tiwu, saya dianggap orang yang berpontensi dalam hal keagamaan dan pemerintahan.

Setelah itu, lanjut Sobiring, saya kemudian dipanggil oleh kades Pohu, untuk menjadi sekertaris, dan selama enam tahun jadi sekertaris desa Pohu, saya kemudian di panggil kembali oleh camat lasusua yang pada waktu itu masih di jabat oleh bapak Samsul Rijal, untuk membantu pemerintahan di Desa Lametuna ini. Dan kemudian saya dipanggil lagi oleh kades sawangaoha untuk menjadi sekertaris desa,” ungkap Sobiring.

Sobiring (69) kakek miskin dari Kolut Foto: Istimewa Sofyan
Sobiring (69) kakek miskin dari Kolut Foto: Istimewa Sofyan

Setelah beberapa tahun menjabat sebagai sekdes Sawangaoha, kata Sobiring ia kembali lagi di Desa Lametuna hingga saat ini. ”Saya masih sering memberikan hutbah jumat di desa ini,’ jelas Sobiring.

Begitulah kisah perjalanan Sobiring, selama empat puluh tahun ia menetap di kolut, ia merasa telah banyak mendapatkan pengalaman, dan sudah menganggap kolut ini sebagai daerahnya sendiri dan akan tetap menjadi warga kolut sampai nafas terakhirnya.

Kakek tua renta ini tetap bersyukur karena perna menjadi bagian dari pemerintahan kolut, meski sekedar pemerintahan di desa saja. Namun ia tetap bangga, perna diikutkan dalam pembangunan kolut.

Ia hanya berharap, ada uluran tangan dari Pemerintah Daerah ( Pemda ) Kolut, khususnya pemerintah setempat, walaupun itu hanya sedikit, yang terpenting adalah bagaimana bisa meringankan beban yang dialaminya sekarang, “Saya hanya berharap ada uluran tangan dari pemerintah,” harapnya penuh rasa haru.

Sangat miris melihat kondisi Sobiring ini yang tak diperdulikan oleh pemerintah setempat, ia juga seorang warga kolut yang mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesejateraan.

Sobiring adalah potret buram kemiskinan kolut, pemerintah kabupaten kolut masih lambang dalam mengentaskan kemiskinan. Khususnya pemerintah setempat dalam hal ini kades, yang seharusnya turun kepalangan untuk mencari warganya miskin dan butuh pelayanan, hal seperti inilah yang harus diketahui, bahwa merekalah yang melayani bukan untuk dilayani
Tidak menutup kemungkinan, masih banyak Sobiring-Sobiring diluar sana yang telah berjasa untuk kolut yang kondisinya tidak diperhatikan oleh pemerintah yang mendambakan uluran tangan para penguasa.

Desain Terbaru

1 KOMENTAR

  1. sya warga Kolut dan sya kenal dgn bapak Sobirng ini,,sejak sya sekolah SDN lametuna smpe SMP 1 Kodeoha,,bpk ii orgnya tekun dan sllu memberikan khotba di brbagai masjid di Kc,kodeoha kolut..
    semoga Allah memberikan sllu kesehatan pda Pk sobiring dan warga dan pemerintah setempat diberi hidayah agar bisa memprhatikan warganya dgn baik. semoga dgn trgantinya pemerintaha baru Kolut dan tdk ada sobiring yg memperhatinkan dan semua diberikan hak2 sbgai warga kolut.

LEAVE A REPLY