Guna menekan penjualan minuman keras yang berasal dari air nira atau tuak, Risal sang Babinkamtibmas yang bertugas di dua desa di Kecamatan Wawoni Barat, Kepulauan (Konkep), Sultra, membina masyarakat Desa Mata Baho dan Desa Pasir Putih, agar air nira dibuat menjadi gula aren.

Laporan. Risal Asnandar
Konawe Kepulauan

Konkep, KoranSultra.Com – Konawe Kepulauan (Konkep) memang terkenal sebagai salah satu penghasil air nira. Setidaknya sekitar puluhan liter per hari bisa dihasilkan dari pohon enau.

Pemikiran masyarakat di daerah tersebut air enau yang dikenal sebagai salah satu minuman keras lokal ini adalah satu satunya cara yang mudah untuk menghasilkan uang.

Tidak heran, masyarakat di wilayah tersebut berdagang tuak sejak puluhan tahun silam, hingga beberapa pekan terakhir ini.

Warga menunjukan hasil produksi gula arennya

Berbekal pengalaman tersendiri, Babinkamtibmas berpangkat Brigadir itu merubah semuanya. Arsih mengubah pemikiran masyarakat di dua desa tersebut, yang sebelumnya memproduksi air enau menjadi miras lokal, kini memproduksinya menjadi gula aren.

Arsih sadar jika mengubah mensen berfikir masyarakat dalam memproduksi air enau menjadi gula aren, tidaklah mudah.

Namun berkat kegigihannya, Polisi berpangkat tiga bengkok dipundaknya itu, berhasil mengubah paradigma berpikir masyarakat setempat.

Ia mengarahkan masyarakat untuk dapat memproduksi air enau menjadi gula aren. Terobasan itu ia lakukan setelah mendapat amanah baru dari Polres Kendari, untuk menjadi Pembinanaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat.

Air tuak yang sudah diproduksi menjadi gula aren

“Kita arahkan masyarakat untuk dapat memproduksi gula aren dari air enau,” ujar Arsih.

Salah satu warga yang kini mulai memproduksi air enau menjadi gula aren, adalah La Mbolosi, warga asal Dusun III Desa Mata Baho.

La Mbolosi kini sukses mengolah miras tardisional lima liter, menjadi tiga buah gula aren. Yang selanjutnya ia jual seharga Rp 10 ribu rupiah.

Pemeeintah di dua wilayah itu berharap, agar warganya bisa semua beralih menjadi pengolah gula aren, dan tidak menjual miras lagi.

Masyarakat berharap agar pemda setempat bisa mendukung niat baik warga Desa Mata Baho, yang sudah muali beralih profesi, yang tadinya sebagai pengolah miras, kini menjadi pengolah gula aren.(**)

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY