Taher (Cakades Santigi/ke dua dari kiri) bersama masyarakat saat memperlihatkan bukti-bukti dugaan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh saudara Herlis

Laworo, Koransultra.com – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa serentak di Kabupaten Muna Barat (Mubar), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 2019 telah usai, sejak tanggal 15 Desember lalu. Namun sedikit banyak meninggalkan polemik.

Salah satunya yang terjadi yaitu di salah satu desa di bagian Utara wilayah Tiworo, yakni salah satu calon kepala desa terpilih Desa Santigi, Kecamatan Tiworo Utara, Mubar, atas nama Herlis diduga memalsukan tahun kelahirannya demi mengikuti Pilkades serentak yang dilaksanakan Minggu lalu itu.

Taher (27), membenarkan dugaan pemalsuan tahun kelahiran dari rival utamanya di Pilkades Desa Santigi itu. Ia mengatakan, jauh-jauh hari dirinya sudah mengingatkan agar Herlis untuk tidak maju di Pilkades.

Surat Penarikan dan Pembatalan Pengesahan ijazah saudara Herlis yang dikeluarkan oleh Kepala SMAN 1 Konsel.

“Dia bersikukuh untuk maju sebagai Cakades. Namun kami sudah mendapat bukti dari sekolah asalnya yakni di SMAN 1 Konawe Selatan bahwa Herlis mengubah tahun kelahirannya dari 1996 menjadi 1992. Kami menduga aksi nekat ini ditempuh untuk memenuhi persyaratan maju pilkades yakni usia minimal 25 tahun.,” Ungkap Taher saat ditemui awak media di kediamannya, Desa Santigi. Selasa (24/12/2019).

Lanjut Taher, menurut keterangan yang didapat dari SMAN 1 Konawe Selatan, Herlis awalnya beralasan ingin bekerja di salah satu perusahaan tambang dan pihak sekolah mengesahkan ijazah miliknya. Pada saat pihak sekolah mengetahui Herlis mencalonkan diri sebagai kepala Desa, ijazah asli Herlis ditahan oleh pihak sekolah.

“kita sudah adukan dugaan pemalsuan dokumen ini di Polsek Tiworo Tengah dengan bukti-bukti yang kita dapatkan yakni data dapodik Herlis di sekolahnya dan surat pembatalan atau penarikan kembali pengesah ijazah dari pihak sekolahnya. Pihak Polsek sudah datang langsung kesini. Dan kami berharap kasus agar secepatnya diproses,” tutur Taher.

Data siswa atas nama Herlis (tulisan tebal) yang dikeluarkan oleh SMAN 1 Konsel

Taher mengakui dirinya melakukan gugatan, tetapi bukan masalah hasil pemilihan melainkan pemalsuan dokumen. Untuk itu, dirinya berharap agar ke depan tidak terjadi lagi hal seperti yang terjadi di desanya.

“Yang kami tuntut bukan dari masalah kekalahan kami, namun masalah dugaan pemalsuan dokumen ini. Sebab, jika masalah seperti ini didiamkan maka akan membudaya dan bisa jadi akan dilakukan juga di daerah-daerah lain di Mubar ini”, jelas alumni SMA Negeri 1 Tikep itu.

Sementara itu, Sri Wati (23) warga Desa Santigi mengaku dirinya dan Herlis (Cakades) umurnya sebaya yakni lahir di tahun yang sama, yaitu tahun 1996.

“Saya dan Herlis pernah satu sekolah, dan bahkan satu kelas waktu masih kelas 10. Namun setelah kelas 11 dan 12 kita sudah beda jurusan”, ungkap Sri Wati.

Kapolsek Tiworo Tengah, Iptu Mapaseleng membenarkan adanya laporan dari masyarakat Desa Santigi terkait dugaan pemalsuan tahun kelahiran di ijazah salah satu cakades. Tetapi, laporan tersebut masih dalam aduan.

“Benar ada laporan, namun masih dalam pengaduan dan kita akan melakukan klarifikasi dengan pihak terkait,” tuturnya.

Di pihak yang di duga memalsukan dokumen, Herlis, saat dihubungi melalui telepon selulernya, Herlis menegaskan kalau dokumen yang disetornya kepada panitia desa adalah asli.

“Dokumen saya asli semua. Terkait dengan saya dilaporkan kepolisian karena tahun kelahiran saya sudah diubah, silakan dibuktikan saja. Intinya, saya mengikuti kalau memang ada proses hukum. Kalau memang benar itu palsu saya siap diproses. Saya punya kelahiran sesuai di akta kelahiranku tahun 1992,” tegas Herlis.

Kontributor : Dedi

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here