Kendari, koransultra.com – Kapolda Sulawesi Tenggara Irjen Pol Drs Yan Sultra Indrajaya, SH gelar dialog dengan insan pers tentang kekerasan yang menimpa wartawan saat menjalankan tugas liputan.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakapolda Sultra Brigjen Pol Waris Agono serta para pejabat utama Polda, Sedangkan dari kalangan insan pers adalah  pimpinan organisasi profesi  (PWI, AJI, IJTI) serta pimpinan organisasi perusahaan pers (SPS, SMSI, AMSI dan JMSI

Dalam dialog Kapolda menyampaikan permohonan maaf atas insiden kekerasan yang dilakukan oknum polisi terhadap, Rudinan, wartawan Berita Kota Kendari, yang tengah melakukan liputan UNRAS di kantor Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Kendari.

“Pertama-tama atas nama institusi Polri  Polda Sultra dan pribadi menyampaikan permohonan maaf atas insiden oknum anggota dengan wartawan beberapa hari lalu,” kata Kapolda Sultra Yan Sultra dalam forum dialog, Sabtu (20/3).

Dikatakan oknum anggota polisi yang diduga sebagai pelaku kekerasan saat UNRAS pada Sabtu 18 Maret atas lelang hasil pekerjaan workshop las dan otomotif,  sudah menjalani pemeriksaan Propam Polda Sultra.

“Ada laporan resmi atau tidak saya sudah tegaskan kepada Propam Polda Sultra  untuk mengambil alih penanganannya. Tindak tegas yang bersangkutan  sesuai ketentuan yang ada,” kata Yan Sultra.

Sementara itu, Pemimpin Umum/Penanggung Jawab harian Berita Kota Kendari Mahdar Tayyong mengatakan kekerasan yang diterima wartawan Rudinan harus diusut tuntas.

“Peristiwa ini merupakan pembelajaran penting, baik pihak kepolisian maupun insan pers sebagai mitra strategis dua binstitusi pelayan publik,” kata Mahdar.

Ketua PWI Sultra Sarjono mengajak pemilik perusahaan media untuk mendidik para wartawan paham tentang kode etik dan implementasi UU Nomor 40/1999 tentang pers.

Selain itu, kata Sarjono perusahaan pers yang mempekerjakan seseorang sebagai wartawan harus membekali wartawannya tentang teknik atau tips meliput aman dalam situasi beresiko.

Ketua AJI Kendari Rosnawati menyayangkan tingginya angka kekerasan yang menimpa wartawan dari kalangan aparat kepolisian.

“Kalangan pers dan kepolisian mesti mencari konsep tepat mengantisipasi terus berulang-ulangnya kekerasan yang menimpa awak media. Memprihatinkan,” katanya.

Dialog berjalan sekitar 2 jam tersebut dicapai beberapa gagasan mengantisipasi terjadinya kekerasan yang melibatkan awak media.
Dalam waktu dekat akan diselenggarakan pelatihan aman meliput pada situasi beresiko bagi wartawan dan pentingnya Literasi bagi kalangan kepolisian tentang UU Nomor 40/1999 tentang Pers,  kode etik  serta kode perilaku wartawan. (RLS***/NS)

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here