Menembus Lelah Mengejar Waktu, Misi Kemanusiaan Wakil Bupati Konawe ke Aceh

Pagi belum sepenuhnya matang ketika Bandara Haluoleo Kendari, Senin (26/1/2026), mulai dipenuhi denyut kesibukan. Cuaca cerah seolah memberi restu, namun suasana di ruang tunggu justru tegang. Di tengah padatnya aktivitas penerbangan, awak media berdiri gelisah menunggu satu nama yang belum juga muncul, H. Syamsul Ibrahim, Wakil Bupati Konawe.

Hari itu, orang nomor dua di Kabupaten Konawe mengemban tugas penting. Ia ditunjuk langsung oleh Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, untuk membawa dan menyerahkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Aceh yang tengah dirundung bencana. Sebuah amanah yang tak mengenal kompromi waktu.

Jarum jam menunjuk pukul 07.30 WITA.

Rombongan belum terlihat. Panggilan keberangkatan mulai menggema dari pengeras suara bandara. Waktu semakin sempit. Kecemasan pun menguat, bukan tanpa alasan sebab di balik penantian itu, ada kabar yang mengusik.

Dari seberang telepon, ajudan Wakil Bupati mengonfirmasi kondisi sang pimpinan.

“Bapak kurang sehat, tapi sudah dalam perjalanan ke bandara. Kami kejar waktu,” ujarnya.

Detik demi detik berlalu.

Lima menit jelang pukul 08.00 WITA, panggilan terakhir terdengar lantang. Telepon kembali berdering. Pesan singkat namun sarat makna disampaikan.

“Kata bapak, berangkat duluan. Kalau tertinggal pesawat, kami menyusul.” tulisan sang ajudan via whass app nya.

Tak ada ruang untuk ragu. Awak media naik ke pesawat. Mereka adalah penumpang terakhir. Pintu pesawat tertutup rapat. Mesin menggeram, pesawat lepas landas tanpa Wakil Bupati Konawe di dalamnya.

Namun perjuangan belum berakhir.

Saat transit di Jakarta menuju Banda Aceh, pesan kembali masuk. Kali ini membawa kepastian.

“Saya bersama bapak sudah berangkat dengan pesawat lain menuju Aceh. Lanjutkan perjalanan.” demikian isi pesan singkat dari seberang.

Sebuah kelegaan yang tertunda akhirnya tiba.

Pukul 18.00 WIB, H. Syamsul Ibrahim menginjakkan kaki di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Wajahnya menampakkan lelah panjang. Kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih, tubuhnya diuji oleh penerbangan beruntun dan sisa sakit yang belum reda.

Namun semangatnya tak surut.

Kesederhanaan sang Wakil Bupati kembali berbicara, tanpa protokoler berlebihan.

“Ayo kita cari tempat ngopi. Di pesawat dingin,” ujarnya ringan, diselingi senyum khas yang tak pernah absen.

Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan keteguhan seorang pemimpin yang memilih hadir, meski tubuh tak sepenuhnya siap.

“Walaupun saya kurang fit, ini tugas kemanusiaan. Ini amanah Pak Bupati Yusran Akbar. Saya harus datang dan menyerahkan langsung bantuan ini,” tegasnya.

Perjalanan dari Kendari ke Aceh bukan sekadar lintasan udara. Ia adalah cerita tentang komitmen, pengorbanan, dan keberpihakan pada kemanusiaan. Ketika raga diuji dan waktu seolah menolak, tanggung jawab tetap dijawab dengan kehadiran.

Di Aceh, bantuan itu akhirnya tiba. Dan bersama bantuan itu, hadir pula pesan kuat: kepemimpinan sejati tak pernah bersembunyi di balik alasan lelah.

Laporan: Andriansyah Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *