Kepala Sekolah SLB Koltim Jumail bersama Hariani(11)  Siswi Penderita Tuna Netra Foto: Dekri
Kepala Sekolah SLB Koltim Jumail bersama Hariani(11) Siswi Penderita Tuna Netra Foto: Dekri

”Umur sebelas tahun siswa ini baru mengenal sekolah, Akibat ditinggal kedua orangtuanya.”

DEKRI ADRIADI: Kolaka Timur

Sungguh miris dan malang nasib Hariani (11 Tahun) hidup sebatang kara setelah ditinggal pergi kedua orangtuanya. Meski demikian, siswi di Sekolah Luar Biasa (SLB) Koltim ini, tetap semangat bersekolah dan beraktivitas.

Penyandang tunanetra itu mulai bersekolah setelah dapat bujukan dari Kepala Sekolah SLB Koltim, Jumail.

“Saya baru mau sekolah selama orangtua saya pergi. Saya hanya tinggal sama nenek saya,” kata Hariani saat dijumpai di sekolahnya, Sabtu (25/2).

Hariani merupakan siswi penderita tuna netra satu satunya di SLB Koltim. Ia baru dapat bersekolah selama ayahnya meninggal dunia saat masih ia bayi. Saat itu, Ibu Hariani tidak tahan untuk merawat Hariani yang masih belia, akibat ditinggal mati suaminya.

IKLAN KPU

Tidak tahan hidup sengsara, akhirnya Ibu Hariani ikut pergi meninggalkan Hariani dalam kondisi kecil. Dikabarkan, Ibu Hariani masih hidup, namun ia hijrah di malaysia sebagai TKW.

Dalam beberapa tahun terakhir, Hariani hidup mandiri bersama neneknya di Kelurahan Simbalai, Kecamatan Loea. Dengan hidup seadanya, Hariani bersama neneknya hanya tidur di gubuk kecil berlantai tanah dengan ukuran 5X4 meter.

Saat ini, Hariani mulai dapat menghapal Alq’an beberapa jus. Ia diajar untuk dapat menghapal 30 jus di sekolahnya.

Kepala Sekolah SLB Jumail mengungkapkan, sebelumnya siswa penderita tuna netra itu, tidak bersekolah. “Saya mendengar ada warga yang cerita, jika ada anak perempuan yang masih berumur belasan tahun menderita tuna netra dan samapai saat ini belum bersekolah,” cerita Jumail.

Mendengar cerita warga, spontan Jumail mempertanyakan alamat keberadaan anak yang disebut sebut itu.

“Akhirnya saya temukan. Dia tinggal di Kelurahan Simbalai pas pojok sudut jalan Kecamatan Loea. Disana saya melihat betapa susahnya hidup mereka, nenek Hariani sudah cukup tua untuk dapat tetap bertahan hidup. Lantai rumah mereka hanya tanah kering, dan dinding sebagian rumah mereka terpal putih,” ujar Jumail dengan nada sedih.

Disana lanjut Jumail, saya menemui mereka, dan saya bertanya apakah kamu mau sekolah? Anak itu langsung menjawab mau,” katanya.

Jumail bercita – cita ingin membuat Hariani menjadi pintar meski memiliki kekurangan.

“Saya bercita-cita akan membuat Hariani dapat menghapal qur’an 30 jus. Saya ingin membuktikan, jika siapapun, kekurangan apapun dia, pasti dapat berkreatifitas layaknya orang normal,” jelas Jumail.

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here