Harga Pasir Ranokomea bakal Naik, Ini Kata Kedes

Rumbia, Koransultra.com – Tempat pengambilan pasir untuk kebutuhan bangunan serta timbunan di Desa Ranokomea Kecamatan Poleang Barat Bombana, untuk sementara waktu ditutup akibat telah terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan satu warga meninggal dunia. 

Iskandar Wase kepala Desa Ranokomea, ditemui awak media ini pada Jumat 1/02/2019, mengatakan, bahwa akibat kejadian ini sehingga pihak kepolisian melarang untuk tidak adanya kegiatan di lokasi pengambilan pasir di Desanya ,

“Untuk sementara ditutup karena alasan keselamatan kerja, karena memang pekerjaan penggalian pasir ini dilakukan warga secara manual,” katanya. 

Namun menurut Kades, akibat larangan ini telah melumpuhkan penghasilan sebagian warganya, yang penghasilannya 30 persen penduduk  Desa bergantung sebagai buruh penggali pasir.

“Sebagai Pemerintah Desa, saya diminta warga untuk mencari solusi agar lokasi galian pasir dapat dibuka lagi, ” ungkapnya

Menanggapi keluhan warganya,  Iskandar Wase berjanji akan berkoordinasi dengan pihak Perusahaan pasir yang memiliki IUP didesanya, agar nantinya dapat membantu mengadakan alat berat apabila lokasi galian warganya terdapat yang berbahaya, dan yang jelasnya harga pasir galian manual akan naik” katanya lagi. 

“Dalam waktu dekat ini Pemerintah Desa akan membuat rapat bersama pihak perusahaan, untuk mencari solusi terkait kerjasama pengadaan alat berat dari pihak Perusahaan Pesir, yang nantinya akan dibuatkan Peraturan Desa(perdes) supaya ada pendapatan Desa dan Kabupaten juga termasuk sewa alat berat “, katanya. 

Selanjutnya juga pihak Perusahaan PT MPS (Mitra Prima Sulawesi) belum dapat di mintai keterangannya, sebab pimpinannya masih di luar daerah, ungkapnya. 

Kemudian untuk diketahui bahwa galian pasir di Desa Ranokomea ini,  sudah berlangsung selama 35 tahun berjalan.

Dilain pihak, Lukman tokoh pemerhati sosial kemasyarakatan didesa Ranokomea Kecamatan Poleang Barat, kepada media ini mengatakan bahwa dirinya merasa prihatin dengan kondisi pendapatan warga yang bergantung pada pekerjaan penggalian pasir secara manual ini,  karena rata -rata pekerja sudah berumah tangga, 

“Harapan saya agar unsur Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan), secepatnya mecarikan solusi agar lokasi penambangan pasir manual dapat di buka lagi,  karena ini berbicara soal perut dan mata pencaharian para buruh pasir yang bergantung dari penghasilan tambang pasir itu,” kata Lukman. 

AKontributor : Asri Joni

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here