Ratusan Masyarakat Menyaksikan acara Prosesi Upcara Adat Mornene Me-Tanduale Di lapangan Tanduale Desa Lakito.  Foto Asri Joni. 

Kolaka, Koransultra.com – Prosesi Adat Tanduale/Tandroale berlangsung hikmah, dilaksanakan di Desa Lakito Kecamatan Toari Kolaka, yang dihadiri oleh unsur Muspida-Muspika Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Bombana,serta Beberapa perwakilanTokoh adat suku Moronene dan Tokoh Adat suku Bugis, juga sesepuh adat lainnya di kabupaten Kolaka pada sabtu, 9/02/2019.

Pelaksanaan Prosesi Adat ini sudah dilakukan sejak dahulu,bahkan sebelum indonesia merdeka, tidak lain hanya untuk mempersatukan ikatan persaudaraan antara Suku Moronene Dan Suku Bugis di jazirah  Pulau Sulawesi. 

Namun kali ini upacara adat yang sakral ini ,kembali dilaksanakan dengan melengakapi beberapa bahan sebagai syarat pelaksanaan Me-Tanduale,  yang masing-masing memiliki filosofi seperti :

Ratusan Masyarakat Menyaksikan acara Prosesi Upcara Adat Mornene Me-Tanduale Di lapangan Tanduale Desa Lakito.  Foto Asri Joni. 

Kain putih kain putih sebagai alas duduk juga merupakan lambang kesucian, Mangkuk putih berisi air jernih lambang sumber kehidupan manusia,  Kulit telur sebagai simbol bahwa barang siapa yang berkhianat maka hidupnya akan rapuh seperti kulit telur,  selanjutnya Arang kayu merupakan simbol bahwa barang siapa berkhianat maka hidupnya akan lebih hitam dari arang,  ada juga Jahe Dan Lombok merupakan simbol bahwa uang berkhianat akan hidupnya akan terasa pedas Seperti keringnya Jahe dan Lombok dan lain sebagainya dan lain lain 

Kemudian dalam prosesi adat ini juga menyembelih Ternak Kerbau berkulit putih ,yang selanjutnya diramu atau dimasak , adalah merupakan simbol pemersatu masyarakat dan di konsumsi oleh semua komunitas suku yang hadir dalam prosesi Adat ini. 

Mokole Muhamad Patani Ali Ketua Dewan Adat Moronene Kabupaten Bombana (DAM) dalam keterangannya mengatakan bahwa , Prosesi Adat MeTanduale pertama di laksanakan terjadi di masa Pemerintahan Mokole Sangia Intera Mpesoe atau Sangia Rahawatu,  pada tahun 1905 masehi.

Ratusan Masyarakat Menyaksikan acara Prosesi Upcara Adat Mornene Me-Tanduale Di lapangan Tanduale Desa Lakito.  Foto Asri Joni. 

“MeTanduale dahulu kala pertama dilakukan oleh Suku Moronene Dan Suku Bugisi, dengan tujuan utama mengikat tali persaudaraan kedua belah pihak dunia akhirat”, katanya. 

Anton Ferdinan S. Pd,  Sekretaris Jendral Dewan Adat Moronene Kabupaten Bombana juga menambahkan bahwa,  Tanduale dalam bahasa moronene diambil dari kata “Tundario Leemiu” yang berarti Sumpah tujuh turunan,  sedangkan dalam bahasa Bugis dilafalkan “Tandro Ale” yang artinya sumpah diri.

“Inti dari pada Tanduale adalah untuk mengingatkan kepada anak cucu kita bahwa , siapa pun yang berkiprah di Jazirah Sulawesi tenggara marilah bergandengan tangan menjalin tali persaudaraan dengan penduduk asli dan saling menghargai Adat masing masing dengan prinsip, dimana kaki berpijak disitulah langit di junjung” kata mantan camat poleang barat ini.  

Dilain pihak , Ir. Hasbir Jaya Razak,MH Ketua Rukun Keluarga Moronene (RKM) Kabupaten Kolaka,  dalam sambutannya mengatakan bahwa dirinya mengapresiasi Kepada para Sesepuh Suku Bugis, yang telah bersama-sama mensukseskan upacara sakral ini,  termasuk kepada semua sesepuh suku lainnya yang telah menyaksikannya, 

“Saya selaku ketua RKM Suku Moronene Kolaka serta mewakili Pemerintah Kabupaten Kolaka, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga terkhusus Saudara dari Suku Bugis yang telah bersama-sama memahami dan mensukseskan jalannya prosesi MeTanduale ini” kata KadisPora Kolaka ini. 

Kontributor : Asri Joni

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here