Wakatobi, Koransultra.com – Pembukaan Festival Pulau Tukang Besi di Binongko tahun 2019 berlangsung meriah. Ada 45 karnaval budaya yang turut andil dalam acara yang hanya dilaksanakan setahun sekali ini.

Antusias masyarakat sangat baik yang terlibat secara langsung maupun yang datang hanya sekadar menonton. Beragam atraksi seni budaya ditampilkan dalam kegiatan ini.

Diantaranya, karnaval budaya Kelurahan Wali dengan jumlah peserta sebanyak 99 seusai Asmaul Husna.

Sementara itu Karnaval budaya Kelurahan Palahidu menampilkan Tari Balumpa hingga Tari Tolu Jiku dari Desa Kampo-Kampo.

Serta penampilan atraksi budaya lainnya dari sejumlah Desa dan Kelurahan di Kecamatan Binongko dan Kecamatan Togo Binongko. Yang tidak kalah menarik adalah tarian kolosal yang di peragakan oleh remaja putri pulau Binongko.

Bupati Wakatobi, H. Arhawi,SE mengatakan, atas nama pemda saya menyampaikan penghargaan kepada kecamatan Binongko dan Togo Binongko serta masyarakat atas konsistensi dan upaya serius  untuk menyelenggarakan kegiatan event Festival Pulau Tukang Besi.

“Festival ini sebagai agenda tahunan merupakan cermin dari besarnya komitmen terutama dalam apresiasi budaya. Adalah konteks pembangunan secara berkesinambungan eksistensi kebudayaan daerah merupakan hal yang sangat krusial untuk terus dilestarikan dan dikembangkan,” ujar Arhawi.

Lanjut kata Arhawi, kebudayaan yang kita miliki adalah identitas atau jati diri kita yang memberikan tuntutan dan panduan nilai bagi kita dalam kehidupan sehari-hari serta menghadapi tantangan masa depan agar kita tidak menjadi daerah yang kehilangan karakter.

“Karena itu kita memandang bahwa penyelengggaraan event seperti ini menjadi simpul penting bagi upaya kita bersama untuk terus menggali,menyemai,melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah sebagai salah satu aset penting yang kita miliki untuk membangun daerah,” katanya.

Mengenai eksistensi pulau Binongko sendiri kita tahu memiliki khasanah budaya yang begitu beragam dan potensi pariwisata yang kaya. Dalam sejarah panjang kabupaten kita sebagai daerah maritim kita menyadari sepenuhnya bahwa pulau Binongko bagian terpenting yang telah berkontribusi membesarkan nama Wakatobi.

“Pulau ini melahirkan banyak pelaut dan saudagar ulung yang tangguh dan disegani diseantero Nusantara.Juga pulau diberkati menjadi tempat dimana dilahirkan para ulama besar yang keaehor dan berjasa mengembangkan syiar Islam keberbagai penjuru nusantara,” ujarnya.

Untuk itu kata Arhawi, kita meyakini bahwa dengan latar belakang itu, dipulau ini pasti menyimpan banyak keajaiban , meninggalkan berbagai warisan budaya yang luhur serta banyak nilai-nilai hidup yang dapat terus kita gali dan pertahankan sebagai modal sosial membangun daerah.

“Penyelenggaraan event ini juga memiliki korelasi yang erat dengan kebijakan strategis daerah kita yang menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu dari leading sektor pembangunan daerah.Apalagi kita menyadari bersama bahwa Kabupaten Wakatobi telah ditetapka sejak tahun 2016 menjadi 10 destinasi wisata unggulan (top ten destination,-red) oleh pemerintah pusat,” katanya.

Berbagai latarbelakang tersebut diatas menjadi menjadi tantangan bagi kita untuk tidak berpangku tangan tetapi terus berbenah untuk meningkatkan daya saing pariwisata daerah agar Kabupaten Wakatobi menjadi destinasi yang paling diminati wisatawan untuk dikunjungi.

“Oleh karenanya, kita mengharapkan penyelenggaraan event ini dapat berkelanjutan dan semakin disempurnakan kemasannya agar dapat membawa nilai tambah sebagai daya tarik pariwisata bagi daerah kita khususnya di Pulau Binongko,” tuturnya.

Kebijakan pengembangan pariwisata kita tegas menempatkan secara utuh posisi ke empat pulau dalam wilayah Kabupaten sebagai bagaian dari satu kesatuan destinasi yang utuh dengan memperhatikan karakteristik potensi yang dimiliki karena itu pemda memiliki komitmen yang tinggi merealisasikannya secara cepat dan bertahap.

Monumen 1000 parang resmi dibangun dengan ditandai peletakkan batu pertama yang langsung dipimpin Bupati Kabupaten Wakatobi, H.Arhawi,SE bertempat di Tanjung Kaurangka, Kelurahan Sowa Kecamatan Togo Binongko. Kamis (02/05)

Dalam sambutan Camat Togo Binongko, Arifin bahwa monumen itu teragenda sejak tahun 2018 lalu lewat festival Kepulauan Tukang besi ke-2 dimana seluruh masyarakat perantau asal Binongko hadir pada momentum Silamabi dan setelah disetujui Pemda maka menjadi bentuk pengakuan dan penghargaan terhadap pandai besi di Binongko.

Kata dia, pandai besi sendiri ditempat peletakkan monumen 1000 parang baik Kelurahan sowa dan kelurahan popalia diperkirakan ada sekitar 70 persen lahir dari pandai besi sebagai penopang kehidupan mereka.

“Ini digagas awalnya beberapa tahun lalu dan hari ini kita letakkan karena berangkat dari keunggulan pariwisata jika yang disodorkan keindahan laut dan pantainya maka kami di Binongko tidak akan kebagian. Sehingga kami sodorkan monumen ini sebagai ikon dan pembeda kami sebagai tempat wisata dan ini pertama tercacat dalam sejarah Bupati meletakkan batu pertama,” katanya.

Sehingga ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bupati,H.Arhawi, SE yang turun langsung berpanas-panasan dengan mendaki batu cadas hanya untuk meluangkan waktunya meletakkan batu pertama.

Bupati Wakatobi: Monumen 1000 Parang Resmi Dibangun di Pulau Binongko

Sementara itu Kadis Pariwisata, Nadar, S.Ip., M.Si menjelaskan filosofi makna dibalik simbol monumen berdiri ditanah seluas 1 hektar itu item peritem dari rangkaian monumen sesuai latar belakang lokasi menjadi sejarah panjang budaya maritim Wakatobi sebagai situs yuju kaurangka dengan mengingatkan banyak kenangan panjang.

“Monument sendiri diatas ada bintang sebagai panduan kemudian pilar nya simbol parang sebagai penanda lahirnya pandai besi pertama .Hal ini perlu kita upayakan agar eksistensi Binongko dengan pandai besinya tidak bisa hilang,” ujarnya.

Selain itu disebutkan pula simbol kelopak dibawah pilar monumen sebagai simbolisasi alquran. Pulau Binongko masih sesuai alasannya merupakan Pulau Qurani dimana sejumlah tokoh syiar Islam ada.

Berikutnya ruang khusus pada monumen sebagai moseum pariwisata.
Diharap kan siapapun yang berkunjung terutama wisatawan maka akan diukur nama diparang lalu disimpan di ruang museum di monument tersebut.

“Kenapa disini, berlatang belakang bahwa bangsa pandai besi pertama ada disini selain itu dilokasi ini juga sebagai tanda bagi perantau kalau dari daerah lain tanjung inilah yang akan dijumpai pertama”,Terangnya.

Bupati Wakatobi,H.Arhawi,SE mengatakan monumen 1000 parang pulau Binongko adalah salah satu niat besar dan cita-cita besar pemda untuk memajukan Pulau Binongko.Demikian Pembangunan serupa juga terus menerus diupayakan tahun 2019  lewat sisi darat  dermaga ferry pulau Binongko.

“Pulau Binongko ini setiap saya kunjungi turut merasakan betapa sulitnya akses jalan. Maka 2020 kita siapkan  anggaran besar-besaran untuk infrastruktur,” ujarnya.

Ia turut merinci seluruh infrastruktur jalan  masih fokus beberapa pulau seperti Wangi-Wangi,Wangsel, Tomia.Demikian disebutkan mengenai janjinya terkait listrik 24 jam di Pulau Binongko disebutkan bahwa
PLN satu unit sudah selesai. “PLN ini tugas kita semua meski pemda sudah hadirkan getset 2 unit namun itu domain PLN yang tak bisa dicampuri,” ungkapnya.

Termasuk program Wakatobi bersinar lewat UMKM bersinar agar segera disosialisasikan baik perorangan dan per kelompok hingga angka 250 juta. Nelayan Pulau Binongko disebut bakal bisa beli kapal pelingkar dengan dana itu

“Dan tempat ini telah diikhlaskan dan harap pak camat harus disesuaikan dengan luasan jalan. Kalau masih bisa mundur 50 meter sehingga monument ini terbangun bisa monumental dimana ada waktu pejalan kaki dan pengendara nantinya melihat monumen 1000 parang ini,” tukasnya.(Adventorial)

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here