Jalan poros di hutan warangga Foto: Bensar/Koransultra
.com

Raha, Koransultra.com – Ruas Jalan Poros-Watopute dilapisi aspal baru, melalui anggaran APBN sebesar Rp22 Miliar tahun 2019, kegaiatan pembenahan jalan sepanjang 89 kilometer (Km) meliputi rute Tampo-Kota Raha- Tondasi aitem yang sama.

Warga protes pengaspalan jalan poros hutan Warangga yakni permukaannya masih nampak bergelombang (bleeding).

“Kami inginkan jalanan itu agar tidak bergelombang sehinga nyaman pengendara, jangan dibuat asal,” ujar pengendar yang tak menyebut namanya, Minggu 21 Juli 2019.

PPK Paket Tampo-Dalam Kota Raha- Tondasi: Jika Ada Gejala Bleeding, Kita Akan Bongkar.

Dua kali sebelumnya dilakukan pelapisan aspal baru, namun jalur yang berada di sekitar kawasan Hutan Warangga tersebut permukaannya masih nampak bergelombang (bleeding).

Mengingat kondisi itu, apakah solusi tindakan pemeliharaan agar tingkat pelayanan tetap tergaja dengan cara mengupas atau mengeruk perkerasan aspal lama lalu kemudian dilapisi dengan aspal baru?

Untuk memastikan hal itu, awak media coba menemui pihak Balai Nasional yang beralamat di jalan Kelinci, Kelurahan Raha III, Kecamatan Katobu.

Menurut Imanuel, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan sehingga permukaan aspal bleeding, yakni akibat kelebihan aspal, faktor usia dan bisa juga karena faktor cuaca yang tidak mendukung pada saat penghamparan aspal.

“Untuk melindungi permukaan agar lebih nyaman, sehingga tetap dilakukan pengerukan dan pengupasan yang tidak sempurna. Namun tidak semua yang harus dikeruk, yang memang parah bleeding. Ini untuk mengefisien dana, kalau ada dana kenapa tidak,” ujar Imanuel, Senin 22 Juli 2019.

Menurut Imanuel, jenis aspal dapat mempengaruhi terjadinya bleeding. Kata dia, aspal yang dipakai di jalan poros Raha-Watopute sebelumnya adalah RMA, sedangkan untuk aspal yang digunakan saat ini adalah Hot Mix jenis Asphalt Concrete- Wearing Course (AC-WC).

“Kita berharap kerusakan tidak terlalu sebesar kemarin. Minimal masyarakat terlayani dengan transportasi jalan yang nyaman, itu dulu. Sambil stap by stap kita lakukan rekontruksi trade blading yang terparah,” bebernya.

Pantauan awak media di lokasi, Sabtu 22 Juli 2019, PT Mitra Pembangunan Sultra sebagai pihak kontraktor saat melapisi aspal baru belum melakukan pengerukan dan pengupasan pada aspal lama, padahal titik tersebut permukaannya cukup parah.

“Lokasi itu akan menjadi perhatian khusus, jika ada gejala bahwa akan bleeding, mau tidak mau kita akan bongkar. Itu tanggungjawabnya mereka (kontraktor). Kan pemeliharaan satu tahun, kalau masih ada kerusakan, maka wajib dilakukan. Tapi kita mengharapkan dengan proses ini hasilnya sudah maksimal,” imbuhanya.

Kontributor: Bensar

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here