Jejak ”Oputa Yikoo” dari Sultan ke Pahlawan Nasional

Dialog Publik Jejak ''Oputa Yikoo'' dari Sultan ke Pahlawan Nasional
Dialog Publik Jejak ”Oputa Yikoo” dari Sultan ke Pahlawan Nasional

Baubau, Koransultra.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung didalam Ikatan Mahasiswa Kota Baubau (IMKB Makassar) buka dialog publik Bertabur Cahaya di Negeri Seribu Benteng (Jilid 2), dengan mengangkat tema ‘Mengenal Jejak Panjang Oputa Yikoo Sebagai Tanggung Jawab Moral Pemuda Dalam Mengangkat Eksistensi Nilai-Nilai Kepahlawanan. Bertempat di lapangan Kara Benteng Keraton Buton, Saptu (3/8).

Sesi ini, di moderatori La Ode Abdul Ghaniyu Siadi SPd MSi bersama empat narasumber, yakni Kadis Pariwisata Kota Ali Arham MMP, Munafi, Imran Kudus SPD MSC, dan La Yusrie.

Diantara narasumber, Salah satunya Imran pada materinya lebih banyak mengeksplor perjuangan Oputa Yikoo, sementara Kadis Pariwisata juga tambahkan tentang hal – hal yang terkait dengan Himayatuddin.

Kemudian Yusrie yang juga selaku Tim pengusul diajukannya La Karambau Sultan Hiyatuddin Muhmmad Saidi sebagai Pahlawan Nasional (Oputa Yikoo, red), mengatakan dirinya bertugas pada progres pengajuan Oputa Yikoo, sampai dimana, bagaimana peluang lolosnya, kapan ditetapkan, kapan diumumkan, lalu kalau diterima akan dilakukan apa.

“Oputa Yikoo ini kan sudah tiga kali di usulkan, dua kali usulan sebelumnya tidak berhasil. Kami dapat info Usulan yang ketiga ini akan diterima,” Tuturnya.

Menurut Yusri, Dukungan penuh oleh Pemda Kota Baubau dan Pemprov Sultra merupakan poin utama,
“Mungkin itulah juga poinnya, sehingga pengusulan kita kali ini lebih bertenaga,” Umbuhnya.

Sejauh ini, Kata Yusrie menurut evaluasi kami sangat berhasil. Terkahir diadakannya rapat internal dan hasilnya tidak ada lagi kekurangan yang ditemukan, sama halnya dari Kementerian.

Sempat Tim dari Kementerian persoalkan titik lokasi makam Oputa Yikoo, dimana secara umum masyarakat Buton ketahui bahwa makam Sultan Buton ke-22 dan 24 ada di tiga tempat, yakni di Lawele, Siontapina, dan didalam Keraton Buton

“Ini harus ditentukan satu dimana sebenarnya, karena akan berkonsekuensi bila telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, maka seluruh terkait Oputa Yikoo menjadi urusan negara, termasuk makamnya,” Kata Yusrie pada wartawan usai sesi dialog.

Pekan lalu, sempat terjadi diskusi yang alot antara Tim pengusul dengan Tim dari Kementerian pada saat ditetapkannya lokasi makam Oputa Yikoo. Banyak pertimbangan, salah satunya bagaimana menjaga marwah pusat Kesultanan Buton.

“Kita punya tanggung jawab, pusat kekuasaan ini marwah nya kita jaga,” Jelasnya.

Tidak ada keraguan beber Yusrie, bahwa Sultan ke 22 – 24 dipastikan meninggal di Siontapina. Tetapi kemudian, dikutip dari sebuah narasi menyebutkan, setelah meninggal di Siontapina, lalu dari Sara Kesultanan meminta agar makamnya dipindahkan di Lele mangura Keraton Buton, begitu pun sama kisahnya di Lawele .

Diketahui proses pengusulan Oputa Yikoo masuk tahap akhir, dimana sedang ditangani oleh Dewan Gelar di Istana Kepresidenan di Ketuai langsung Menteri Pertahanan. Selain itu salah satu Wakil Dewan Gelar Prof Dr Jimly asshiddiqie SH MH ikut mengawal proses tersebut.

KONTRIBUTOR : ATUL WOLIO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *