Ayah Korban tak Rela MH PN Baubau Vonis 4 Bulan Terdakwa Lakalantas

Baubau, Koransultra.com – Usai sudah putusan Pengadilan Negeri (PN) Baubau kepada terdakwa (Darmawati) atas kasus kecelakaan lalu lintas (Lakalantas), pada Mei 2019 lalu. Karena kelalaian menewaskan seorang remaja Desti Kurniah (19 th). Berdasarkan fakta hukum di pengadilan, Ketua Majelis Hakim vonis terdakwa dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan. Mendengar itu, Ibu kandung DK (korban,red) sontak menangis histeris di ruang pengadilan. Senin (19/8).

Dua hari berlalu setelah vonis, La Mahudi (ayah korban) sesekali cucurkan air mata, bila ditanya awak media. Dia, belum bisa lupakan anak perempuannya. Bahkan sedih itu selalu menghampirinya jika tiba-tiba La Mahudi mengenang almarhum anaknya.

“Kepergiannya, sangat membekas didalam hati kami, DK satu – satunya anak perempuan kami,” Pilunya sembari mata yang terlihat berkaca – kaca.

Sebelumnya, video tangisan ibu korban sempat viral di medsos. Netizen sosmed dan sebagian masyarakat Kota Baubau yang mengetahui itu merespon, bahwa putusan pengadilan tidak adil.

Kuasa Hukum korban bersama awak media langsung mendatangi kantor PN Baubau. Rabu (21/8).

Pada wawancara, Humas PN Baubau Hairuddin Tomu SH mengatakan, kami menjatuhkan pidana (Straffen), karena terbukti bersalah. Kelalaian yang menimbulkan Lakalantas, mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan, sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Dalam persidangan perkara ini, memang terdakwa diajukan dengan dakwaan tunggal, karena melanggar pasal 310 ayat 4 UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sama seperti tuntutan jaksa,” Ucap Humas PN Baubau.

Selain itu, Humas juga mengungkapkan, pemeriksaan perkara tersebut berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan dan dijadikan acuan peringanan majelis hakim kepada terdakwa. Diantaranya, penandatanganan surat perjanjian perdamaian (SPP) antara terdakwa dengan ayah korban sebagai perwakilan. Kemudian, dibuat dihadapan lurah, bersama saksi kedua belah pihak.

Terkait fakta sidang, Lanjut Haeruddin, “Pihak terdakwa sudah memberi santunan berupa uang sebesar Rp 50 jt, ditambah Rp 5 jt, ditambah lagi dengan biaya pelaksanaan hari meninggalnya termasuk sembako,”.

Menurutnya, pernyataan perdamaian yang dibuat di Kantor Kelurahan itu, sebagaimana terlampir pada berkas penyidik, itu pun dikuatkan oleh keterangan bapak kandung korban di persidangan, bahwa telah ada perdamaian dari terdakwa, dan telah membenarkan menerima santunan sesuai isi perjanjian.

Kami gunakan pendekatan restoratif justice sebagai bahan pertimbangan, dan sesuai dasar yang dakwaan surat tuntutan JPU,

“Perkara ini, hakim dalam mengadili perkara berpegang pada pasal 6 UU Kekuasaan Kehakiman. Dimana hakim wajib atau terikat pada surat dakwaan tunggal dari JPU dan sesuai tuntutan 4 (empat) bulan JPU di persidangan,” Tegas Haeruddin

Diketahui, delik perkara ini ialah delik kelalaian, karena deliknya berbeda dengan kejahatan biasa.

Tambah Haeruddin, “Disamping itu, Perdamaian dengan santuanan uang, menurut majelis untuk ukuran Baubau uang 50 jt itu termasuk uang yang lumayan besar. Memang, pada prinsipnya jiwa manusia ini tidak bisa dinilai dengan uang, kita sebagai aparatur peradilan dan hakim sangat memahami itu,” Katanya.

Melalui Humas, PN Baubau menanggapi atas tanggapan warga Baubau, menilai putusan itu tidak adil. Menurut Humas, putusan itu sudah mewakili dua kepentingan, karena satu sisi kepentingan korban sudah diwakili JPU dan disatu sisi kepentingan terdakwa.

“Dengan adanya perdamaian itu, Sehingga majelis pengadilan berpendapat bahwa putusan yang dijatuhkan itu sudah adil dengan pendekatan restoratif justice,” Pungkas Humas.

KONTRIBUTOR : ATUL WOLIO

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here