Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangun Sejahtera Desa Bola, Kabupaten Buton Selatan (Busel) Hadirkan Produk Lokal Bernilai Mewah.

Bumatauga, Koransultra.com – Sungguh tak asing bila kita mendengar salah satu jenis makanan pokok ‘Ubi Kayu’ didalam kehidupan masyarakat lokal pada umumnya.

Namun tak disangka, ada keunikan tersendiri bagi masyarakat lokal yang berada di Desa Bola, Kabupaten Buton Selatan (Busel). Pasalnya, bermodal bahan baku Ubi Kayu, seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) Wauliati berhasil ciptakan produk unik dan mewah yang diproses secara modern. Bahkan, ini perdana di Kepulauan Buton (Kepton) sebagai arus ekonomi baru bagi IRT.

Luar biasanya lagi, penganan kue dari Kaopi (ubi kayu) ini, punya rasa nikmat tersendiri yang memukau, apa lagi saat dicicipi, rasanya itu lebih terasa nikmat di lidah. Bila dibanding dengan kue yang berbahan terigu, rasanya jauh berbeda. Hebatnya lagi, makanan ini juga dapat membantu bagi yang mengalami penyakit gula.

Bila mengenang aktivitas masyarakat Desa Bola, rata-rata berprofesi sebagai pekebun (tani, red). Hal ini membawa hati IRT Ibu Wauliati terbesit, hingga hadirlah sebuah impian mulianya untuk menghadirkan salah satu sumber ekonomi, minimal bisa menambah pendapatan keluarga.

Produk Kaopi Berbahan Baku Ubi Kayu Dari Desa Bola

“Saat itulah, saya coba pikirkan bagaimana IRT tidak hanya berfokus dengan pekerjaan rumah saja, apa lagi masyarakat disini kalau bukan di kebun ya pasti duduk diam dirumah,” Ungkap Wauliati saat disambangi Wartawan Koransultra.com di Rumahnya Desa Bola. Senin (21/10).

Menurut Wauliati, kebanyakan IRT disini, usai selesaikan kerjaan rutin didalam rumah, waktunya hanya dilewatkan begitu saja, jadi banyak waktu terbuang sia-sia, hanya kumpul-kumpul yang tidak menghasilkan manfaat.

Wauliati yang merasa bersyukur, dimana impiannya perlahan demi perlahan mulai nampak. Apa lagi, saat ini telah membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangun Sejahtera Desa Bola, yang beranggotakan 15 orang IRT. Menurut dia, sekarang IRT telah sadar dan mau berpikir untuk meningkatkan pendapatan didalam keluarga.

“Alhamdulillah, untuk perbulan pendapatan kelompok kami mulai dari Rp 500 rb s/d Rp juta,” Imbuhnya.

Wauliati juga menyebutkan, bahwa pengolahan secara modern ini berdampak positif, antara lain daya tahan produk Kaopi ataupun yang dibuat menjadi penganan kue dapat bertahan hingga enam bulan lamanya.

“Kalau masih diolah tradisional, daya tahannya tidak terlalu lama, jadi cepat berlumut dan tidak enak lagi di konsumsi,” Katanya.

Diketahui, usaha kelompok yang godok sejak pertengahan 2018 lalu, sudah hadirkan beberapa produk dari Ubi Kayu, antara lain, Produk Kaopi’Ku, dan penganan kue mulai dari Bolu Gulung, Brownis (Bolu Pandan) dan Kue Lantaku yang berbentuk love.

“Untuk nilai ekonomi produk ini sudah ada, hanya saja saya masih rasakan, pemasarannya masih sangat terbatas. Tekad kami saat ini, semoga kedepan hasilnya dapat lebih besar lagi,” Curhat Wauliati.

Harapannya, Pemkab Busel turut membantu, seperti mengadakan pelatihan, memperluas jaringan pemasaran terutama penganan kue dari Kaopi (ubi kayu). Demi ekonomi baru bagi masyarakat dalam menambah pendapatan, maupun masyarakat yang belum memiliki pekerjaan bisa terbantu.

Kontributor : Atul Wolio

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here