Wakatobi, Koransultra.com – Bupati Kabupaten Wakatobi, H.Arhawi berharap pihak Badan Pusat Statistik mampu melakukan validasi data kependundukan daerah setempat. Hal itu diungkap saat memberikan sambutan rapat koordinasi Kabupaten dalam rangka sensus penduduk 2020 di Villa Nadila. Rabu (12/2/2020).

Bukan tanpa alasan. Data real BPS yang masih menggunakan sensus tahun 2010 silam masih tercatat 95.000-an penduduk sementara oleh Pemerintah daerah setempat mencatat update penduduk berkisar 114.000-an penduduk terdaftar. Artinya ada perbedaan jumlah cukup besar yang perlu divalidasi secara teliti agar bisa menghasilkan data real kependudukan.

Dijabarkan pentingnya validasi data kependudukan yang maksud adalah salah satunya cakupan jumlah penduduk miskin. Meski tiap tahunnya mengalami trand penurunan angka kemiskinan akan tetapi perlu validasi secara teliti.

“Sejak 2016 lalu trand angka kemiskinan terus menerus alami penurunan meski lambat namun tiap tahun ada. Dan tercatat tahun 2019 menjadi 14,75 persen. Ini menjadi pertimbangan berat bagi Daerah agar mengevaluasinya total,” ungkap Arhawi.

Dikatakannya, satu aspek bahwa bantuan masyarakat miskin akan berkurang sehingga berdampak perputaran ekonomi didaerah mengapa perlunya kehati-hatian termasuk penyesuaian data melalui Dinas Sosial setempat.

“Ketika masyarakat merasakan berbagai program yang kita turunkan dan secara bersamaan data kemiskinan berubah maka kita didaerah selanjutnya akan evaluasi,” ujarnya.

Kepala BPS Wakatobi, Towedy Martinus Layco membenarkan hal itu. Ia menyebut angka tingkat kemiskinan tetap menggunakan data jumlah penduduk sebagai pembaginya sehingga diperolahlah persentase penduduk miskin.

“Nah, data yang disebut Pak Bupati itu bahwa tahun terakhir tahun 2019 angka kemiskinan berada pada 14,75 persen dibanding tahun sebelumnya persentasenya sebesar 14,85 persen ini artinya mengalami penurunan. Demikian kita lihat trand kemiskinan memang ada trand penurunan tiap tahun meski sifatnya fluktuatif,” Kata Towedy Martinus Layco.

Ia juga membenarkan adanya perbedaan data penduduk registrasi berdasarkan data tahun 2010 dan tahun 2015.

“Jumlah penduduk menurut capil tahun 2019 semester 1 mencapai 114.000 sekian sementara angka BPS pertengahan tahun 2019 berada diangka 95.000-an,” katanya.

Hanya saja, sensus penduduk akan mengambil data catatan sipil sebagai sampel untuk diupdate. Lalu disesuaikan berapa jumlah yang sudah pindah atau meninggal dan atau bahkan penduduk yang belum tercatat lewat data capil di daerah.

“Jadi sensus yang akan kami lakukan berbeda sebelumnya setidak-tidaknya bisa saling menjelaskan perbedaan itu,” jelasnya.

Kedua perbedaan lain sensus penduduk 2020, menggunakan metode online dan Wawancara sehingga diharapkan partisipasi masyarakat untuk bisa mendata diri lewat www.bps.go.id, situs ini menjadi wadah pendataan mandiri yang akan dibuka 15 Februari- 17 Maret. Sementara untuk Sensus Wawancara akan dilakukan pada Juli 2010.

Bagi peserta sensus mandiri loginnya akan menggunakan nomor induk kependudukan dan kartu KK yang bersangkutan.

Towedy sapaan akrab Towedy Martinus Layco menyebut rapat koordinasi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan sensus secara berkala dalam waktu10 tahun sekali melibatkan Desa,kelurahan hingga Kabupaten.

Kontributor: Surfianto

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here