Unaaha,koransultra.com– Revitalisasi makam para leluhur,  merupakan salah satu program visi misi pemerintahan bupati dan wakil bupati konawe, kery saiful konggoasa dan gusli topan sabara,  dimana kebudayaan sebagai penunjang program utama pembangunan daerah dan sejauh ini pemerintah daerah telah melakukan revitalisasi terhadap tujuh makam para leluhur yang turut andil berjasa dalam meletakan tonggak sejarah peradaban kerajaan konawe di masanya.

Program revitalisasi tersebut juga merujuk pada peraturan daerah ( Perda ) nomor 26 tahun 2015 tentang pelestarian adat istiadat dan cagar budaya yang mengharuskan bagi pemerintah daerah untuk senantiasa  melestarikan kebudayaan serta adat istiadat tersebut agar marwah kabupaten konawe dimata dunia sebagai episentrum kebudayaan di sulawesi tenggara tetap terjaga.

“Revitalisasi situs makam para leluhur, bukan untuk kepentingan saat ini, melainkan untuk kepentingan anak cucu kita dalam menjaga identitas Kabupaten Konawe dimasa akan datang,” kata Wabup Konawe, Gusli Topan Sabara.

Gusli mengatakan dimasa kepemimpinan Kery Saiful Konggoasa,  sebagai artefak genetik makam para leluhur, dipandang sangat penting untuk diperhatikan sehingga perlu adanya program revitalisasi makam, hal itu dilakukan untuk menunjukan dan menjaga marwa masyarakat konawe, mengingat bukti sejarah berupa istana kerajaan-kerajaan di konawe sebagai artefac benda sudah tidak ada.

“Bayangkan kalau makam-makam yang menjadi artefac genetik kita abaikan keberadaannya apa yang akan menjadi kebanggaan buat generasi sesudah kita, jadi sudah tugas kita menjaga menjaga situs dan cagar budaya,”harapnya.

Selain makam para leluhur, pria yang akrab disapa GTS ini juga menyebutkan beberapa simbol kebudayaan yang menjadi kebanggaan masyarakat konawe itu sendiri, yakni Kalosara, adat istiadat dan bahasa ( bahasa Tolaki,red).

Dijelaskannya, kebudayaan Kalosara yang merupakan artefac benda, dinilai merupakan kebudayaan paling tinggi yang dimiliki oleh masyarakat Konawe,  dengan Kalosara tidak ada satu persoalanpun yang tidak dapat diselesaikan jauh sebelum hukum positif masuk kebumi anoa. Sementara adat istiadat atau artefac lisan itu sendiri dikatakan kurang lebih 1100 tahun diajarkan secara turun temurun tidak mengalami suatu perubahan meskipun segala tata cara adat istiadat di ajarkan dan disampaikan secara bentuk lisan.

Yang tidak kalah pentingnya adalah kebudayaan bahasa daerah tolaki, sehingga orang nomor dua konawe tersebut menyarankan agar ada kewajiban sehari dalam seminggu bagi para aparatur sipil negara untuk menggunakan bahasa daerah ( bahasa Tolaki,red) dalam lingkup instansi pemerintah.

“Saya harapkan kedepan semua ASN menggunakan bahasa daerah Tolaki, ini penting agar kebudayaan tetap kita jaga,” tutupnya.

Kontributor : Nasruddin

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here