Gak Cuma Buku: Eksplorasi Singkat ke Perpus UIN Jakarta

Penulis: Kayla Chairunnisa Arifin

Mahasiswi Manajemen Pendidikan

Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta

Sejujurnya, sebelum mengikuti kunjungan ini, bayangan saya tentang perpustakaan masih cukup konvensional: ruangan yang sunyi, rak-rak berisi buku-buku tua berdebu, dan suasana yang justru lebih cepat mengantuk daripada membangkitkan semangat belajar. Ternyata, setelah mengunjungi Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saya sadar bahwa gambaran itu salah besar.

Kunjungan ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Perpustakaan. Kami datang sebagai rombongan resmi yang didampingi dosen. Begitu tiba di lokasi, kami langsung diarahkan naik lift menuju ruang pemaparan materi—tanpa perlu mengurus administrasi sendiri karena semuanya sudah diatur oleh pihak kampus. Dari awal, kesan profesional dan modern sudah terasa.

 

Sesi Materi: Pengenalan Pusat Perpustakaan UIN Jakarta

Sebelum melakukan eksplorasi ke setiap lantai, kami mengikuti sesi pemaparan materi terlebih dahulu dengan judul “Pengenalan Pusat Perpustakaan UIN Jakarta”. Materi ini disampaikan langsung oleh pustakawan dan menjadi fondasi pemahaman saya tentang layanan serta fasilitas yang tersedia.

Visi dan Misi Perpustakaan

Perpustakaan UIN Jakarta memiliki visi untuk menjadi pusat rujukan informasi ilmiah yang unggul, terintegrasi, dan berbasis teknologi informasi. Visi ini diwujudkan melalui berbagai layanan yang dirancang untuk mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Seperti yang ditegaskan oleh Kepala Perpustakaan UIN Jakarta, Agus Rifai, Ph.D., perpustakaan bukan hanya ruang untuk membaca dan meminjam buku, melainkan pusat sumber belajar yang terintegrasi dengan teknologi informasi.

 

Layanan Digital Unggulan

 

Touch & Go Mobile Library menjadi salah satu layanan andalan yang paling menarik perhatian saya. Aplikasi ini memungkinkan pengguna mengakses ribuan koleksi digital mulai dari e-book, e-journal, artikel, skripsi, tesis, disertasi, hingga repository institusi langsung dari perangkat seluler atau laptop. Keunggulan utamanya adalah akses yang dapat dilakukan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, di mana pun pengguna berada. Cukup login menggunakan alamat email @uinjkt.ac.id. Selain itu, terdapat OPAC (Online Public Access Catalog) yang dapat diakses melalui laman http://tulis.uinjkt.ac.id/. Melalui OPAC, pengunjung dapat mencari koleksi berdasarkan judul, pengarang, atau kata kunci, serta mengecek ketersediaan buku apakah sedang dipinjam atau masih tersedia di rak. Sistem ini membuat proses pencarian referensi menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien.

Repository UIN Jakarta (https://repository.uinjkt.ac.id/) juga menjadi sumber daya yang tidak kalah penting. Repository ini menyimpan karya ilmiah civitas akademika UIN Jakarta, seperti skripsi, tesis, disertasi, jurnal, dan laporan penelitian. Semua koleksi dapat diakses secara gratis dan menjadi referensi yang sangat kredibel, terutama bagi mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir.

Dua layanan baru yang cukup menarik perhatian saya adalah Kelas Literasi Digital dan Mobile Service. Kelas Literasi Digital merupakan program gratis untuk mempelajari berbagai tools akademik seperti Mendeley, Zotero, serta cara mengakses e-journal internasional. Sementara itu, Mobile Service adalah layanan di mana pustakawan tidak lagi sekadar menunggu di meja layanan, melainkan mendatangi mahasiswa untuk memberikan bimbingan literasi sesuai kebutuhan.

 

Perbedaan Jenis Koleksi: Buku, Jurnal, Makalah, dan Buku Genggam

 

Salah satu materi yang paling membekas dalam ingatan saya adalah penjelasan pustakawan mengenai perbedaan berbagai jenis koleksi. Penjelasan ini sangat membantu saya dalam memahami mana sumber yang tepat untuk kebutuhan akademik tertentu.

Buku memiliki karakteristik isi yang umum dan luas cakupannya. Buku cocok untuk pembaca yang baru mengenal suatu topik karena memberikan pemahaman dasar secara menyeluruh. Buku juga dapat dipinjam dan dibawa pulang.

 

Jurnal Ilmiah berbeda secara fundamental. Isinya sangat spesifik dan mendalam, fokus pada satu topik kecil yang diteliti secara serius. Jurnal ditulis berdasarkan penelitian asli baik survei, eksperimen, maupun studi kasus dan terbit secara berkala (bulanan, tiga bulanan, atau enam bulanan). Bahasa yang digunakan lebih teknis dan kompleks dibandingkan buku biasa. Umumnya, jurnal tidak dapat dipinjam; pengguna hanya bisa membacanya di tempat atau mengaksesnya secara online.

 

Makalah merupakan karya tulis ilmiah yang lebih pendek dari skripsi. Makalah biasanya ditulis untuk memenuhi tugas kuliah atau dipresentasikan dalam seminar. Strukturnya terdiri atas pendahuluan, pembahasan, dan penutup.

 

Buku Genggam (Pocket Book) adalah versi mini dari buku biasa dengan ukuran yang kecil dan praktis. Isinya ringkas, hanya memuat poin-poin penting. Buku genggam sangat cocok untuk dibaca cepat atau sekadar mengulas ulang materi di waktu luang.

 

Kamus merupakan koleksi referensi yang sangat penting, terutama di lingkungan akademik. Sesuai dengan penjelasan yang saya dapatkan, kamus termasuk dalam kategori koleksi referensi yang tidak boleh dipinjam dan hanya boleh dibaca di tempat . Fungsi utamanya adalah untuk membantu pengguna menemukan arti, ejaan, pengucapan, serta padanan kata dalam berbagai bahasa. Di Perpustakaan UIN Jakarta, koleksi ini meliputi kamus umum seperti Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Arab-Indonesia, dan kamus istilah dalam berbagai bidang ilmu

 

Untuk mempermudah pemahaman, perbedaan antara buku, jurnal, dan kamus dapat dilihat pada tabel berikut:

 

AspekBukuJurnal IlmiahKamus
Cakupan IsiLuas dan umumSpesifik dan mendalamPadat, berfokus pada definisi dan istilah
TujuanMemberikan pemahaman dasar suatu topikMenyajikan hasil penelitian terbaruMembantu mencari arti dan makna kata
Frekuensi TerbitSekali terbit (bisa cetak ulang)Berkala (bulanan, 3 bulanan, 6 bulanan)Diperbaharui secara berkala (edisi)
BahasaUmum, mudah dipahamiTeknis, akademik, kompleksDeskriptif, singkat, padat
Proses PenulisanBisa berupa kompilasi atau opiniHarus melalui peer reviewDisusun oleh tim leksikografer
Kemampuan DipinjamYa, bisa dibawa pulangUmumnya hanya dibaca di tempatTidak bisa dipinjam (hanya baca di tempat)
Relevansi untuk SkripsiSebagai pengantar/pemahaman dasarSebagai referensi utama dan state of the artUntuk definisi operasional dan istilah asing

 

Pustakawan juga memberikan analogi yang cukup kreatif. Buku itu seperti foto panorama sebuah gunung luas dan menyeluruh. Jurnal itu seperti kamera zoom yang fokus pada satu batu di puncak gunung spesifik dan mendetail. Makalah itu seperti catatan perjalanan seorang pendaki cukup lengkap tetapi tidak sedalam jurnal. Sedangkan buku genggam itu seperti peta singkat hanya memuat jalur-jalur penting.

 

Aturan Dasar Perpustakaan

Di akhir sesi, pustakawan juga menjelaskan beberapa aturan dasar yang perlu dipatuhi oleh seluruh pengunjung. Tas besar wajib dititipkan di loker; hanya barang berharga yang boleh dibawa ke ruang koleksi. Pengunjung dilarang makan dan minum di area koleksi buku. Ketenangan wajib dijaga selama berada di dalam perpustakaan. Pakaian harus sopan tidak diperkenankan memakai kaos oblong atau sandal jepit. Untuk peminjaman, maksimal empat buku umum dengan durasi dua minggu.

 

Eksplorasi Lantai Perpustakaan

Setelah sesi materi selesai, kami dipersilakan untuk menjelajahi setiap lantai perpustakaan secara mandiri. Perpustakaan Utama UIN Jakarta memiliki tujuh lantai dengan fungsi yang berbeda-beda.

Lantai 1: Lobby Hall

Lantai dasar ini merupakan pintu masuk utama. Suasananya bersih, rapi, dan modern. Terdapat area informasi yang melayani pengunjung umum.

Lantai 2: Area Loker

Di lantai ini tersedia fasilitas loker penitipan tas sebanyak 352 unit yang diawasi dengan kamera CCTV untuk keamanan. Fasilitas ini sangat membantu pengunjung yang membawa tas besar agar dapat bergerak lebih leluasa di area koleksi.

Lantai 3: Area Administrasi dan Perkantoran

Lantai tiga merupakan area perkantoran yang meliputi ruang kepala perpustakaan, tata usaha, dan bagian layanan teknis. Area ini bukan merupakan ruang publik, sehingga kami hanya melewatinya sekilas.

Lantai 4: Koleksi Umum dan Layanan Sirkulasi

Lantai ini menjadi favorit saya. Di sinilah koleksi buku-buku umum dari berbagai disiplin ilmu ditempatkan mulai dari sains, sosial, humaniora, hingga novel-novel populer. Layanan sirkulasi (peminjaman dan pengembalian) juga beroperasi di lantai ini. Saya melihat banyak mahasiswa yang asyik membaca di kursi-kursi empuk yang tersedia. Ada yang serius mencatat, ada pula yang tampak sekadar bersantai sambil membaca novel.

 

Lantai 5: Koleksi Khusus Islam, Referensi, dan Multimedia

Lantai lima memiliki kekhasan tersendiri. Di sini tersimpan koleksi keislaman yang sangat lengkap: tafsir, hadis, fikih, kitab kuning, hingga buku-buku Islam kontemporer. Suasana di lantai ini lebih tenang dibandingkan lantai empat. Banyak mahasiswa yang terlihat serius membaca kitab-kitab tebal. Selain itu, terdapat pula area multimedia dengan komputer yang terhubung dengan akses internet.

Lantai 6: Koleksi Skripsi, Tesis, Disertasi, Jurnal, dan Majalah

Lantai enam merupakan lantai yang paling krusial bagi mahasiswa tingkat akhir. Di sinilah koleksi skripsi, tesis, disertasi, jurnal ilmiah, dan majalah disimpan. Setelah mendengarkan penjelasan materi sebelumnya, saya menjadi lebih memahami betapa berharganya koleksi yang ada di lantai ini. Jurnal-jurnal ilmiah yang tersusun rapi di rak merupakan sumber referensi kredibel yang selama ini mungkin luput dari perhatian banyak mahasiswa.

Lantai 7: Ruang Pertemuan, American Corner, dan Fasilitas Pendukung

Lantai paling atas ini difungsikan sebagai pusat kegiatan. Terdapat ruang pertemuan untuk seminar, American Corner, Saudi Arabian Corner, serta aula serba guna. American Corner sendiri merupakan hasil kerja sama antara Kedutaan Besar Amerika Serikat dengan UIN Jakarta. Tempat ini menyediakan berbagai sumber informasi tentang Amerika Serikat dan mengadakan program-program seperti English Discussion Class. Sayangnya, waktu kunjungan yang terbatas membuat saya hanya sempat mengintip sekilas.

 

 Refleksi Kritis dan Saran untuk Perpustakaan

Setelah mengikuti seluruh rangkaian kunjungan mulai dari sesi materi hingga eksplorasi lantai saya sampai pada sebuah kesimpulan penting: Perpustakaan UIN Jakarta bukan sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan ini telah bertransformasi menjadi pusat ekosistem pengetahuan digital yang terintegrasi. Layanan sirkulasi yang efisien, fasilitas loker yang aman, serta platform digital seperti Touch & Go dan OPAC yang canggih semuanya dirancang untuk mendukung kesuksesan akademik mahasiswa. Akses terhadap jurnal internasional dan repository institusi menjadi nilai tambah yang sangat berharga, terutama bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau penelitian lainnya.

Saya juga menyadari bahwa selama ini sering kali saya mengeluh sulit mencari referensi untuk tugas. Ternyata, solusinya sudah tersedia di Perpustakaan UIN Jakarta sejak lama. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Perpustakaan Agus Rifai, Ph.D., “Kalau perpustakaan tidak mendekat, ia akan ditinggalkan.” Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa sudah saatnya mahasiswa seperti saya untuk “mendekat” kembali ke perpustakaan dan memanfaatkan semua layanan yang telah disediakan secara maksimal.

 

Dari perspektif mata kuliah Perpustakaan, kunjungan ini memberikan pemahaman konkret tentang bagaimana sebuah perpustakaan perguruan tinggi idealnya dikelola. Mulai dari tata kelola koleksi, sistem layanan, digitalisasi, hingga program-program literasi untuk pemustaka—semuanya berjalan dalam sebuah ekosistem yang terencana dengan baik. Ini bukan sekadar teori di dalam kelas, melainkan praktik nyata yang dapat saya saksikan langsung.

Catatan Kritis dan Saran

Meskipun secara keseluruhan Perpustakaan UIN Jakarta telah menunjukkan kinerja yang sangat baik, terdapat beberapa catatan kecil yang mungkin dapat menjadi bahan evaluasi ke depan.

Pertama, sosialisasi mengenai layanan digital seperti Touch & Go Mobile Library dan Kelas Literasi Digital masih perlu digencarkan. Berdasarkan pengamatan saya selama kunjungan, tidak semua mahasiswa yang berada di perpustakaan tampak mengetahui keberadaan layanan-layanan tersebut. Perpustakaan dapat memanfaatkan media sosial atau spanduk di area strategis untuk memperluas jangkauan informasi.

Kedua, penambahan jam operasional, terutama pada masa ujian tengah semester dan ujian akhir semester, akan sangat membantu mahasiswa yang membutuhkan ruang belajar lebih lama. Beberapa perguruan tinggi lain telah menerapkan sistem 24 jam untuk lantai tertentu selama masa ujian.

Ketiga, penambahan jumlah stasiun pengisian daya (charging station) di setiap lantai akan menjadi nilai tambah mengingat hampir seluruh mahasiswa saat ini menggunakan laptop dan smartphone untuk belajar.

Saran-saran ini tentu bukan bertujuan untuk mengkritik, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar Perpustakaan UIN Jakarta dapat terus berkembang menjadi lebih baik lagi.

 

Kunjungan singkat ke Perpustakaan UIN Jakarta benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap dunia kepustakawanan. Perpustakaan bukanlah ruang sunyi yang menakutkan atau membosankan, melainkan mitra akademik yang siap mendukung perjalanan intelektual mahasiswa. Bagi teman-teman yang mungkin masih memiliki pandangan konvensional tentang perpustakaan, saya sangat merekomendasikan untuk mengikuti kunjungan sejenis ini atau datang secara mandiri. Luangkan waktu sejenak untuk menjelajahi setiap lantai, berdiskusi dengan pustakawan yang ramah, dan mencoba berbagai layanan digital yang tersedia. Percayalah, perpustakaan ini bukan cuma buku dan kalimat itu baru benar-benar saya pahami maknanya setelah mengikuti kunjungan kali ini. Pengalaman ini menjadi bekal berharga tidak hanya untuk menyelesaikan tugas UAS mata kuliah Perpustakaan, tetapi juga untuk perjalanan akademik saya ke depan.

kayla.chairunnisa25@mhs.uinjkt.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *