
Baubau, Koransultra.com – Pemerintah Kota Baubau, melalui Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP), Yulia Widiarti, ST. M.Si, bakal kucurkan anggaran APBD Rp 30 juta bangun Rumah La Udu (50) dalam waktu dekat sesuai standar Nasional.
Awalnya, Pemerintah sempat beri alternatif tempat tinggal, namun lagi-lagi, Kata Kadis, Pak La Udu ini tidak bisa tinggal jauh dari keluarganya, apa lagi bila jauh dengan laut.
“Kita sudah sempat tawari tinggal di Rusun, hanya Pak La Udu tidak mau karena jauh dengan keluarganya,” Tutur Kadis saat ditemui diruangannya.
Projects ini, pun telah sesuai Program Dinas PKP yang telah tercantum didalam SILPA Tahun Anggaran 2020, berupa Pembangunan Baru Rumah Swadaya (PBRS) Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Sebelumnya, pihak Dinas sempat terkendala dalam proses pencarian lokasi lahan. Namun atas kerja keras dan kerjasama antara Dinas PKP ditemani Lurah setempat, alhasil lokasi berhasil didapat, tepatnya dibelakang Terminal Waramosio, posisi pinggir laut eks tambat perahu, dalam bentuk Rumah Panggung.
“Kita sudah survei langsung bersama Lurah setempat. Jadi posisinya nanti dipinggir laut, bentuk nya itu rumah panggung,” Ungkapnya.
Lanjut, “Rumah panggung nya ini, kita juga sudah diperkirakan, terutama saat posisi air pasang, jadi tidak sampai menyentuh lantainya,” Katanya.

Soal kesiapan, Kadis menyebutkan, jika pihaknya telah siap dan tidak ada lagi kendala. Bahkan dalam waktu dekat pihak Dinas sudah dapat menyiapkan bermacam bahan yang dibutuhkan.
“Kita hanya tinggal melaporkan ke Walikota, kapan waktunya dimulai,” Terangnya.
Pun begitu, tidak terlepas dari instruksi Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin MH, kepada Dinas PKP agar secepatnya, namun tidak menyalahi aturan regulasi yang berlaku.
Saat ini, La Udu seorang warga Kelurahan Kadolomoko, Kota Baubau ini, sedang bersiap menantikan kediaman barunya. Pasalnya La Udu ini, sebelumnya mendiami Goa di tepi laut di Kecamatan Kokalukuna.
Hidupnya pun sebatang kara, jadi untuk bertahan hidup didalam Goa tentu tidak mudah. Pengasihan dari mata pencaharian nya pun, sangat pas-pasan. Alat seadanya yang dimilikinya untuk memancing ikan, hanya bisa hasilkan beberapa pundi rupiah saja, sehingga resiko untuk tidak makan sering terjadi. Sedihnya, ia (La Udu) tidak pernah menolak, kala istirahat malamnya ditemani air laut yang membasahi tubuhnya bila air pasang tiba.
Kontributor : ATUL WOLIO




