Tirawuta, Koran Sultra – Sebanyak 18 pelajar siswa sekolah luar biasa (SLB) Koltim terpaksa harus belajar dengan menggunakan fasilitas manual. Pasalnya, pasca berdirinya sekolah tersebut hingga saat ini belum ada perhatian pemerintah daerah terkait alat bantu belajar bagi siswa  cacat.

Sehingga, proses belajar mengajar siswa saat ini masih kurang efektif. Bagaimana tidak, alat bantu belajar siswa penyandang cacat tidak di perhatikan oleh pihak pemerintah daerah.

Plt. Kepala sekolah Slb Djumail mengatakan, saat ini dia beserta rekan guru lainnya melakukan proses belajar mengajar siswa penyandang cacat ini masih kurang efektif. Sebab, fasilitas belajar siswa belum ada.

“Saat ini kami masih menggunakan fasilitas manual, seperti seruling utamanya penyandang cacat tuna rungu agar dapat melihat gerakan mulut yang kami ucapkan melalui bunyinya”,katanya

Kata Djumail, tidak hanya fasilitas belajar siswa yang tidak ada, namun transportasi umum seperti kendaraan antar jemput siswa masih menggunakan fasilitas pribadi.

“Antar jemput siswa saja, kita masih gunakan motor sendiri, saya berharap semoga saja pihak pemerintah secepatnya memberikan bantuan alat belajar, serta kendaraan dinas untuk mengantar jemput siswa.”katanya.

Saat ini Slb Koltim menampung sekitar 18 orang siswa diantara nya 10 orang perempuan dan 8 orang siswa laki-laki, sementara jenis penyandang cacat yang dialami oleh para siswa beranekaragam seperti tuna rungu, wicara, daksa dan tuna grahita. Sementara jumlah tenaga pengajar delapan orang.

Kontributor : Dekri

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here