wakatobi2Foto Surfianto Nehru
Wakatobi, Koran Sultra – Sebanyak 217 bupati dan walikota dari 15 negara di dunia hadir di kegiatan Konferensi Asia Pasific yang dilaksanakan di Patuno Resort, Wakatobi. Sabtu(5/9).

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Wagub DKI Jakarta, Djarot syaiful Hidayat. Hadir pula Walikota Jeju dan Wali Kota Hamamatsu dari Korea Selatan dan masih banyak lagi.

Konferensi Asia Pasific tersebut dibuka oleh Presiden United Cities an Local Goverments (UCLG), Won Hee-Ryong, di Patuno Resort Wakatobi. Usai pertemuan regional sektion terbesar UCLG itu, enam peserta langsung dianugerahi gelar bangsawan La Ode oleh Sultan Buton ke-40, H. La Ode Muh. Izat Manafa, Kaimudin Khalifatul Hamis.
Pemberian kehormatan tersebut disaksikan oleh ribuan masyarakat Wakatobi di Lapangan Merdeka, Wangi-wangi, Wakatobi. Sebelum memulai prosesi penobatan gelar, suguhan parade budaya dari Pulau Wangi-wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko.

Tidak hanya itu, penampian puluhan penari Kolosal cagarbiosfer menjadi jamuan hangat bagi seluruh tamu dan masyarakat yang ada.

Walikota Jeju, Won Hee-Ryong takjub. Tak hanya keindahan alam dan karangnya yang menawan, namun budaya masyarakat Wakatobi dianggap cukup luar biasa.

Gelar kehormatan adat Buton diberikan kepada pimpinan negara, gubernur, wali kota dan bupati sebagai penghargaan yang memiliki kepedulian terhadap pembinaan, pengembangan, pemeliharaan, pelestarian, promosi budaya dan lingkungan hidup diwilayah eks Kesultanan Buton.

Gelar tersebut diberikan kepada, Walikota Jeju (Korea Selatan) sekaligus Presiden UCLG-ASPAC, Won Hee-Ryong, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, Wakil wali kota Kazan (Rusia), Ilsur Metsin, Perwakilan India, Jatin V Mode, Peter Woods dari Australia dan Wakil Menteri pekerjaan Umum, Hermanto Dardak.

Menurut La Ode Mustafa, anugerah kehormatan adat tidak diberikan kepada sembarang orang, harus dilihat dari karakter dan perilaku yang berefek kepada seluruh masyarakat.

“Kehormatan adat diberikan kepada keenam peserta ini karena mereka memiliki karakter dan perilaku yang terpuji dan patut dicontoh oleh masyarakat,” terangnya.

Prosesi adat pemberian bangsawan yang langsung disematkan oleh Sultan Buton kepada keenam peserta tersebut dimulai dengan pemasangan sarung tenun khas Buton. Lalu pemasangan ikat pinggang atau yang biasa disebut Supele. Setelah itu mereka yang mendapat gelar dipasangkan jubah berwana hitam. Lalu proses terakhir dilanjutkan dengan penyematan keris dan topi bangsawan.

Kontributor : Surfianto Nehru

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here