[caption id="attachment_10699" align="aligncenter" width="600"] Ilustrasi[/caption]

JAKARTA, KORANSULTRA.COM – Guna membangun kader pemuda pelopor pertanian organik (Alami), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI bekerjasama dengan Generasi Muda Desa Nusantara (Gema Desantara). Dengan menggandeng usia produktif dinilai akan memberikan kontribusi yang lebih panjang untuk mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.

Kemenpora melalui programnya akan melahirkan 1000 (seribu) kader pelopor pertanian organik (pertanian alami) di seluruh Indonesia. Persebaran program pada tahun ini dilaksanakan di Propinsi Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Para pemuda ini nantinya akan dilatih memproduksi Nutrisi pengganti pupuk, pola tanam dan pemeliharaan tanaman sampai panen. Tak hanya itu, mereka didorong untuk menunjukkan kemampuan mengorganisasi tani menjadi komunitas yang mandiri, memiliki hasil produksi tani yang baik serta berdaya saing.

Program Kepoloporan Pemuda Bidang Pertanian Organik (Pertanian Alami) ini memiliki fokus untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia pertanian unggul yang dapat menjadi penggerak Pertanian Organik (Pertanian Alami) karena akan dilatih dalam memproduksi Nutrisi pengganti pupuk, pola tanam dan pemeliharaan tanaman sampai panen, serta mendorong kemampuan mengorganisasi tani menjadi komunitas yang mandiri, memiliki hasil produksi tani yang baik serta berdaya saing.

Ketua Umum Gema Desantara, Jaelani menyebutkan bahwa 20-30 tahun ke depan, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yakni pemuda dengan usia antara 20-40 tahun yang mencapai 24,3%. Perubahan itu bisa terjadi di tangan pemuda dan Program Kepeloporan Pemuda Bidang Pertanian Organik (Pertanian Alami) adalah adalah salah satu jalannya,” ungkapnya.

Jaelani menambahkan, prinsip utama dari pertanian alami adalah memahami bahwa negeri ini dibangun dari kearifan di berbagai aspek, termasuk pertanian.

Banyak tradisi pertanian, lanjut dia, telah ditinggalkan oleh para petani di Indonesia, sehingga tidak lagi mempertimbangkan aspek lingkungan termasuk aspek kearifan lokal.

“Sistem ini menggunakan bahan alami dalam membuat Nutrisi dan Mikroba sebagai pupuk tanaman, juga mendorong budaya gotong royong dalam pelaksanaannya,” ujar dia.

Kemenpora dan Gema Desantara berharap dengan hadirnya program ini, persoalan-persoalan masyarakat tani yang ada di lokus-lokus berbasis pertanian dapat terjawab. “Sekaligus kita semua berharap dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat akan mengurangi pengangguran, meningkatkan kesejahteraan petani dan terwujudnya ketahanan pangan nasional” kunci Jaelani.(CJ Humas Gema Desantara)

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY