Dinamika politik terus berpesta, sisi kehidupan pun kian tergerus oleh kepiawaian pada esensi kebenaran. pergerakan pada lapisan sosial yang masif guna merasakan pencapaian popularitas, watu yang terus mendekat erat pada sesi Pemilihan Presiden Rebulik Indonesia (Pilpres) dan Pemilihan Calon Legislatif (Pilcaleg) bulan april 2019 nanti, reaksi politik memuncak hingga pertarungan elektabilatas seolah membawa kekuatan berdaya saing disegala lini dan instrumen, baik itu dirana birokrasi ataupun disegala aktivitas pada komponen komunitas, sebab kelembagaan untuk perwakilan rakyat.

Mantan Ketua Pemuda Muhammadyiah sekaligus Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Baubau La Ode Muhammad Yamin Dabu, saat ditemui disela waktu sesaat setelah pertemuan dengan beberapa keluarga dan kalangan masyarakat (minggu, 17/02/2019 pukul 16.00 Wita), pada awak media ia menuturkan “Coba lihat, betapa sangat ironis argumentasi politik, sampai lapisan masyarakat paling bawah pun telah ramai bisik ini dan itu tentang politik, masyarakat yang seharusnya fokus pada pekerjaan guna penghidupan keluarga, tapi tetap saja mengehebohkan diri dengan bermacam isu politik, membuat kenyangkah poltik itu?”

Lanjut Yamin, “Kebenaran itu pasti ada politiknya, tetap tidak keluar dari relevansi politik, karena politik salah satu perantara menuju representatif kebaikan, tergantung siapa orangnya, apakah demi kebenaran atau demi kepalsuan atau pembenarannya melalui perantara politik, tentu bermacam peran bisa terjadi, siapa yang kuat ya selalu saja langsung dipandang itu benar, inilah konsumsi yang sering dianggap lazim”.

Politik hegemoni, pembenaran bukan pada kebenaran ataupun penguasa dengan kekuasaannya dituntut mampu lebih dan terkesan memaksakan versi kebenaran politiknya. Salah satu modus pembenaran politik yang populer dilakukan oleh pelaku politik dan kekuasan adalah lewat pencitraan yang dirancang sedemikian rupa.

Politik Kebenaran vs Politik Kepalsuan: Sekjen PAN Kota Baubau “Tersenyum” Bukan Politik Pembenaran

Mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadyiah (IMM) tahun 1998 pun menuturkan, “Kelemahan kita ada pada kebiasaan yang terlalu cepat menaggapi atau menilai sesuatu yang ada dihadapan kita, sehingga intelektual pun masuk pada pencitraan, sisi penelahan kita masih kurang sementara tugas kita kepada bangsa khususnya rakyat dan daerah kita masih banyak yang kita lupakan”.

“Masihkah kita terjebak pada pembenaran meski ternyata itu kepalsuan, keluargalah yang amat penting dari segalanya, kebahagiaan keluarga syarat seorang pemimpin, bukan ini dan itu tetapi lihat apa yang kita bisa berikan pada keluarga, maka lihat kita berada dimana saat ini”, pungkasnya

Seperti yang terlihat, gelagat hasrat pihak penguasa pun masih cukup besar untuk menguasai kebenaran politik, tetapi masalahnya rezim penguasa di zaman reformasi ini tidak menguasai kebenaran politik dengan cara kursif, sehingga cara paling efektif diambil penguasa dengan memaksimalkan hegemoni kekuasaan yang dimilikinya.

Desain Terbaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here