Pernah lihat di linimasa X atau FYP TikTok ada orang yang dengan bangga mengafirkan sesama Muslim hanya karena beda pendapat? Atau sebaliknya, ada yang mengatasnamakan “Islam liberal” lalu seenaknya menghalalkan hal-hal yang sudah jelas batasannya dalam Al-Qur’an? Hati-hati. Dua fenomena ini bukan cuma beda opini, tapi red flags yang sama-sama mengancam Islam moderat yang kita cintai.
Allah SWT sendiri telah memperingatkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat143: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umatIslam) sebagai umat yang wasath (moderat/pertengahan), agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” Kata wasath di sini secara harfiah berarti jalan tengah, adil, seimbang, danterbaik. Ini adalah fondasi bahwa Islam sejak awal memang didesain untuk menjadi moderat, bukan radikal dan bukan liberal.
Banyak orang masih debat panjang soal mana yang lebih berbahaya antara radikalisme dan liberalisme. Ada yang bilang radikal lebih mengerikan karena terang-terangan menggunakan kekerasan, meledakkan bom, dan mengkafirkan orang dengan mudah. Ada juga yang bilang liberal lebih licin dan berbahaya karena merusak akidah dari dalam secara perlahan, seperti air yang menggerogoti karang. Tapi setelah saya mencermati pergerakan kedua kelompok ini dalam beberapa tahun terakhir, saya sampai pada satu kesimpulan tegas: keduanya sama-sama merusak, sama-sama ekstrem, dan sama-sama keluar dari jalan tengah yang menjadi inti ajaran Islam. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Akan selalu ada segolongan dari umatku yang berada di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menentangnya.” Hadis ini menunjukkan bahwa kelompok ekstrem kanan maupun kiri tidak akan pernah bisa menghapus Islam yang moderat, tapi kewajiban kita tetap menjaganya.
Mari kita lihat dulu kelompok radikal, terutama yang bercorak takfiri. Mereka dengan mudah mengkafirkan muslim lain yang tidak sepaham, bahkan hanya karena perbedaan pendapat soal furu’iyah (cabang agama). Mereka membawa narasi besar “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah”, tapi sungguh ironis karena pemahaman mereka atas kedua sumber utama Islam itu sangat kering, keras, dan lepas dari konteks. Mereka mengabaikan sejarah turunnya ayat, mengabaikan kaidah-kaidah usul fikih, serta menolak ijtihad ulama kredibel yang sudah terbukti keilmuannya. Padahal Nabi Muhammad SAW sendiri dengan tegas bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali agama akan mengalahkannya“ (HR. Bukhari). Hadis ini seharusnya menjadi pengingat bahwa Islam diturunkan untuk memberikemudahan, bukan kesulitan. Tapi kelompok radikal justru melakukan sebaliknya. Mereka membuat agama terasa berat, menakutkan, dan eksklusif. Mereka mengajarkan bahwa hanya kelompok mereka yang selamat, sementara yang lain sesat dan halal darahnya. Inilah red flag terbesar dari radikalisme: mereka menghancurkan ukhuwah Islamiyah dan mencoreng wajah Islam yang penuh rahmat.
Sekarang giliran kelompok yang mengusung label “liberal Islam”. Kelompok ini juga tidak kalah berbahaya, hanya saja caranya berbeda. Mereka cenderung menafsirkan ayat-ayat suci hanya dengan akal dan hawa nafsu semata, tanpa berpegang pada tafsir ulama yang mumpuni. Mereka dengan mudah melonggarkan hal-hal yang sudah jelas hukumnya dalam Al-Qur’an dan Hadis, mulai dari kewajiban jilbab, batasan hubungan lawan jenis, hingga masalah halal dan haram. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ma’idah ayat 48: “Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” Ayat ini menegaskan bahwa Islam memiliki aturan dan batasan yang jelas. Bukan berarti semua bisa diubah seenaknya demi mengikuti tren zaman. Dalil kelompok liberal sering terdengar indah: “Islam itu rahmat“, “Allah Maha Pengampun“, “yang penting niat baik“. Sekilas terdengar toleran dan ramah. Tapi jangan tertipu. Ketika semua batasan syariat dilonggarkan tanpa landasan ilmu yang kuat, agama perlahan kehilangan identitasnya. Kebebasan berpikir memang sangat dihargai dalam Islam, namun kebebasan tanpa otoritas keilmuan, tanpa komitmen pada teks, dan tanpa mengindahkan ijma‘ ulama, hanya akan melahirkan kekacauan tafsir. Saya tidak setuju dengan kekerasan atas nama agama, itu jelas. Tapi saya juga tidak setuju dengan sikap “semua boleh” yang ujung-ujungnya merelativisasi kebenaran agama. Itu bukan moderat, itu asal-asalan.
Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan Islam moderat? Sayangnya banyak orang salah paham tentang istilah ini. Ada yang mengira moderat berarti kompromi tanpa prinsip, Islam “setengah-setengah” yang takut bersuara tegas. Itu keliru besar. Islam moderat atau yang dalam istilah agama disebut wasathiyah adalah jalan tengah yang justru sangat tegas pada prinsip-prinsip dasar akidah dan syariat, tapi lembut dan bijaksana dalam cara menyampaikan dan menerapkannya. Kembali ke surat Al-Baqarah ayat 143, kata wasath juga diartikan oleh para ulama sebagai khairul ummah (umat terbaik) karena sikap moderatnya. Wasathiyah tidak akan pernah mengatakan “semua agama sama” atau “hukum Islam boleh diabaikan“. Tapi wasathiyah juga tidak akan pernah mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dalam masalah furu’iyah. Inilah Islam yang selama ini dijalankan oleh mayoritas ulama Nusantara. Mereka tidak mudah mengafirkan, tapi juga tidak main-main dengan akidah. Mereka tegas dalam prinsip, lentur dalam metode. Mereka paham konteks tanpamengorbankan teks.
Jadi apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda Muslim Indonesia di tengah gempuran dua paham ekstrem ini? Pertama, jangan gampang termakan propaganda. Saat ini medsos dipenuhi konten provokatif yang dirancang untuk membuat kita memilih salah satu kubu ekstrem. Kalau ada yang bilang “Islam moderat itu Islam kafir” atau sebaliknya “semua boleh asal niat baik, tidak perlu ikuti syariat“, jangan langsung percaya. Cek dalilnya, tanya ulama atau guru agama yang kredibel. Kedua, belajar Islam dari sumbernya yang otoritatif, bukan hanya dari konten 30 detik di TikTok atau Instagram Reels. Ketiga, jadilah muslim yang kritis tapi santun, berani tapi berilmu. Kita tidak harus memilih antara menjadi radikal atau liberal karena itu adalah dua pilihan yang sama-sama buruk. Ada pilihan ketiga yang jauh lebih baik: menjadi muslim moderat yang paham konteks, berpegang teguh pada Al-Qur’an danHadis sesuai pemahaman ulama yang mu’tabar, serta tidakmudah terprovokasi.
Islam itu satu dan universal: rahmatan lil ‘alamin. Tapi sayangnya, agama mulia ini saat ini diserang dari dua sisi yang berlawanan sekaligus. Dari sisi kanan oleh mereka yang terlalu keras dan gemar mengkafirkan. Dari sisi kiri oleh mereka yang terlalu longgar dan suka meliberalisasi agama tanpa batas. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 9: “Maka jika kedua golongan itu berdamai, hendaklah kamu berdamai di antara keduanya dengan adil dan berlaku lurus.” Tugas kita, generasi muda, bukan ikut-ikutan menjadi ekstrem di salah satukutub, tapi menjadi penengah yang adil dan pelurus yang jujur. Tugas kita adalah menjadi benteng terakhir yang menjaga Islam moderat tetap berdiri kokoh di tengah arus ekstremisme kanandan kiri. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan?

Penulis : Kayla Chairunnisa Arifin
Mahasiswi Manajemen Pendidikan
Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta
kayla.chairunnisa25@mhs.uinjkt.ac.id





